Citra NASA Tampilkan Karbon Monoksida Merah Pekat, Karhutla Indonesia Jadi Sorotan
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Visualisasi satelit NASA Eyes on the Earth yang memperlihatkan sebaran karbon monoksida di Indonesia menjadi perhatian di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada pengamatan 10–12 Oktober 2026, sejumlah kawasan dalam visualisasi tersebut didominasi warna oranye hingga merah pekat.
Gambaran itu muncul ketika kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Sumatra dan Kalimantan, terus menjadi perhatian. Asap kebakaran tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan kualitas udara lintas wilayah.
Berdasarkan laporan NASA Earth Observatory yang diterbitkan pada 11 Oktober 2026, kebakaran lahan gambut masih menghasilkan asap dalam jumlah besar di Indonesia dan Papua Nugini. Citra satelit yang direkam pada 9 Oktober memperlihatkan kepulan asap dari sejumlah titik kebakaran.
Lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang rentan terbakar ketika kondisi kering berlangsung. Api dapat menjalar hingga lapisan tanah organik di bawah permukaan, sehingga proses pemadaman lebih sulit dan asap dapat terus dihasilkan dalam waktu lama.
Apa Arti Warna Merah pada Peta NASA?
Visualisasi karbon monoksida di Indonesia perlu dibaca dengan memahami cara kerja instrumen satelit. NASA menggunakan instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua untuk mengamati karbon monoksida dan pergerakannya di atmosfer.
Warna pada peta merupakan representasi konsentrasi gas pada lapisan atmosfer yang diamati. Warna oranye hingga merah menunjukkan konsentrasi relatif lebih tinggi pada skala visualisasi tersebut.
Namun, warna merah pada peta tidak dapat langsung diartikan bahwa seluruh penduduk di wilayah yang ditampilkan sedang menghirup udara dengan tingkat pencemaran yang sama.
Konsentrasi gas pada lapisan atmosfer tertentu berbeda dengan pengukuran kualitas udara di permukaan tanah. Untuk mengetahui risiko paparan yang dihadapi masyarakat, diperlukan data tambahan, termasuk pengukuran partikulat halus PM2.5, kondisi udara setempat, serta informasi mengenai lokasi dan intensitas kebakaran.
Karbon monoksida sendiri merupakan gas yang dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ketika terhirup dalam konsentrasi berbahaya. Paparan dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.
Karhutla dan Ancaman Kabut Asap Lintas Negara
Situasi kebakaran di Indonesia juga mendapat perhatian internasional. Reuters melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penambahan sumber daya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan yang meluas.
Laporan tersebut menyebut kabut asap telah memperburuk kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia dan negara tetangga. Malaysia dan Singapura turut menghadapi dampak asap, termasuk gangguan aktivitas masyarakat di beberapa kawasan.
Data yang dikutip Reuters juga menunjukkan peningkatan kasus gangguan pernapasan yang dikaitkan dengan kabut asap di tujuh provinsi Indonesia. Hingga 12 Oktober, Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus, meningkat dibandingkan 113.336 kasus yang dilaporkan hingga 9 September 2026.
Angka tersebut merupakan data kasus yang dilaporkan dalam konteks dampak kabut asap, bukan bukti bahwa seluruh kasus disebabkan oleh satu jenis polutan tertentu.
Di sisi lain, pemantauan kebakaran melalui satelit menjadi salah satu instrumen penting untuk mengidentifikasi titik panas dan mendukung penanganan di lapangan. Data satelit perlu dipadukan dengan laporan petugas, pengamatan cuaca, serta pengukuran kualitas udara agar kondisi di setiap daerah dapat dipahami secara lebih akurat.
Pemantauan dan Pencegahan Perlu Diperkuat
Visualisasi NASA memberikan gambaran mengenai pergerakan karbon monoksida di atmosfer, tetapi tidak menggantikan pengukuran kualitas udara secara langsung. Masyarakat perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, perkembangan kebakaran, dan imbauan kesehatan di wilayah masing-masing.
Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk mempercepat pemadaman, mencegah munculnya titik api baru, serta melindungi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak.
Perhatian terhadap karhutla tidak cukup hanya berfokus pada luas lahan yang terbakar. Dampak terhadap kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, dan lingkungan juga perlu menjadi bagian dari penanganan. (*)