Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW — Persaingan teknologi Amerika Serikat dan China memasuki fase baru. CEO Intel Lip-Bu Tan menilai kemampuan semikonduktor China semakin mempersempit jarak dengan teknologi AS, sementara model kecerdasan buatan buatan China mulai menarik perhatian karena menawarkan performa kompetitif dengan biaya penggunaan lebih rendah. Penilaian itu menunjukkan tekanan bagi industri teknologi tidak lagi hanya datang dari perebutan cip tercanggih, tetapi juga dari siapa yang mampu menyediakan komputasi AI dengan biaya paling efisien.
Dalam wawancara dengan Nikkei Asia yang dikutip sejumlah media, Tan ditanya apakah China dapat menyamai AS dalam teknologi semikonduktor dalam lima hingga sepuluh tahun. Ia menilai China bahkan saat ini sudah tidak terlalu jauh tertinggal, sembari menunjuk kemampuan riset universitas seperti Tsinghua dan Peking University. Pernyataan tersebut merupakan penilaian Tan, bukan ukuran resmi mengenai jarak teknologi kedua negara.
Tan sebelumnya juga menyoroti perkembangan model AI China seperti DeepSeek, Kimi, dan GLM. Dalam forum DBS Asia Future Forward di Singapura, ia menyebut performa model tersebut sudah memadai untuk berbagai kebutuhan, dengan biaya token yang lebih rendah dan tingkat adopsi yang berlangsung sangat cepat. Sifat sumber terbuka pada sebagian model China dinilai menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebarannya.
Persaingan Bergeser dari Cip ke Ekosistem
Dampaknya bagi industri cukup besar karena persaingan AI tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang mempunyai prosesor tercepat. Biaya menjalankan model, perangkat lunak, kemudahan pengembangan, serta kemampuan menyediakan cip dalam jumlah besar semakin menentukan pilihan perusahaan. Jika model dengan performa memadai dapat digunakan dengan biaya lebih rendah, perusahaan dapat memilih efisiensi daripada selalu mengejar sistem paling mahal.
Perubahan itu mulai terlihat di pasar China. Reuters melaporkan pangsa Nvidia di pasar cip AI pusat data China turun menjadi 34 persen pada semester pertama 2026, sementara Huawei mencapai sekitar 28 persen berdasarkan data IDC yang dikutip laporan tersebut. Pembatasan ekspor AS ikut membatasi akses China terhadap produk Nvidia kelas atas sekaligus menciptakan ruang lebih besar bagi Huawei, Cambricon, Alibaba, Baidu, dan pembuat cip lokal lainnya.
Namun perkembangan tersebut belum berarti China telah sepenuhnya menyamai industri semikonduktor AS dan sekutunya. Perusahaan teknologi China masih membutuhkan cip asing untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang sangat besar, sementara kemampuan produksi domestik belum sepenuhnya memenuhi permintaan. Financial Times melaporkan perusahaan-perusahaan China masih menggunakan berbagai cip Nvidia dan akses komputasi di luar negeri untuk menutup kekurangan pasokan.
Tekanan Baru bagi Raksasa Teknologi
Bagi produsen cip global, kebangkitan pemain China berarti pasar semakin kompetitif. Pembatasan teknologi yang semula bertujuan memperlambat kemampuan China juga mempunyai konsekuensi industri: perusahaan lokal mendapat insentif semakin besar untuk membangun produk substitusi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menciptakan dua atau lebih ekosistem teknologi yang berkembang dengan rantai pasokan berbeda.
Tan sendiri menilai konsentrasi produksi semikonduktor global pada satu atau dua perusahaan bukan kondisi yang ideal. Ia mendorong basis manufaktur yang lebih beragam dengan keberadaan TSMC, Intel, Samsung, dan produsen lain sebagai pemain kuat. Bagi industri, diversifikasi dapat mengurangi risiko jika gangguan geopolitik, bencana, atau konflik perdagangan mengenai salah satu pusat produksi utama.
Persaingan model AI juga dapat menekan harga. Jika DeepSeek, Kimi, GLM, dan model China lainnya mampu menyediakan kemampuan yang cukup bagi perusahaan dengan biaya lebih murah, pengembang tidak selalu harus bergantung pada model termahal. Hal itu dapat memaksa penyedia AI global bersaing bukan hanya dalam kecanggihan, tetapi dalam harga, efisiensi komputasi, keterbukaan sistem, dan kemudahan penggunaan.
Industri AI Menuju Persaingan Biaya
Perkembangan China sekaligus menunjukkan bahwa investasi besar belum menjamin dominasi permanen. Industri AI global sedang menghadapi pertanyaan mengenai besarnya modal yang dibutuhkan untuk membangun pusat data, membeli cip, menyediakan listrik, dan membiayai pengembangan model. Tan sendiri memperingatkan bahwa biaya modal dan kemampuan menghasilkan pengembalian investasi akan menjadi tantangan penting bagi ekspansi AI.
Dalam situasi tersebut, kemampuan China menawarkan model lebih murah menjadi variabel strategis. Perusahaan di negara berkembang ataupun bisnis dengan anggaran terbatas dapat memiliki lebih banyak pilihan teknologi apabila kualitas model terbuka terus meningkat. Kompetisi akhirnya dapat bergeser dari perlombaan membangun model terbesar menuju perlombaan menghasilkan kecerdasan yang cukup kuat dengan biaya serendah mungkin.
Pernyataan bos Intel karena itu tidak hanya berbicara tentang siapa akan memenangkan persaingan teknologi AS-China. Dampaknya bisa menjalar ke harga cip, biaya layanan AI, strategi investasi pusat data, hingga pola rantai pasok semikonduktor dunia. Jika jarak teknologi terus menyempit, industri memasuki fase ketika dominasi tidak lagi ditentukan satu negara atau satu perusahaan, melainkan kemampuan membangun ekosistem yang paling efisien dan mudah diadopsi.(*)