CEO Thai Airways Chai Eamsiri Dicopot Usai Kekacauan Operasional Saat Banjir Bangkok
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BANGKOK, BERITANOW.COM – CEO Thai Airways, Chai Eamsiri, diberhentikan sementara dari jabatannya setelah perusahaan penerbangan nasional Thailand tersebut menghadapi gangguan operasional serius akibat banjir besar yang melanda Bangkok.
Keputusan tersebut diambil oleh jajaran direksi Thai Airways dalam rapat pada Jumat, 2 Oktober. Chai mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya tidak memperoleh penjelasan secara spesifik mengenai alasan pencopotan tersebut.
Menurut Chai, dewan direksi ingin melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya kelemahan maupun kesalahan dalam penanganan operasional dan manajemen krisis perusahaan.
Dalam keterangannya kepada bursa saham pada Jumat malam, Thai Airways menyebut Chai untuk sementara dinonaktifkan dari tugasnya. Langkah tersebut dilakukan sembari perusahaan melakukan pemeriksaan fakta serta mengevaluasi prosedur penanganan krisis.
Untuk sementara, posisi CEO Thai Airways dijalankan oleh anggota dewan direksi, Sumrid Sumneing, yang ditunjuk sebagai pelaksana tugas.
Puluhan Penerbangan Thai Airways Terdampak Banjir
Gangguan akibat banjir menyebabkan Thai Airways harus membatalkan sejumlah penerbangan selama pekan tersebut. Aktivitas pengiriman kargo perusahaan juga sempat dihentikan.
Salah satu persoalan yang dihadapi perusahaan adalah keterbatasan jumlah pekerja yang dapat masuk kerja karena sejumlah wilayah terdampak banjir. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap kelancaran operasional penerbangan.
Masalah juga terjadi di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Proses penanganan bagasi mengalami keterlambatan cukup besar sehingga pihak Angkatan Udara Thailand ikut membantu mengatasi penumpukan dan gangguan layanan tersebut.
Situasi itu menimbulkan tekanan terhadap manajemen Thai Airways karena bandara merupakan salah satu pusat utama aktivitas penerbangan perusahaan.
Pemerintah Thailand Soroti Penanganan Krisis
Pemerintah Thailand sebelumnya turut menyoroti respons Thai Airways terhadap gangguan yang terjadi. Menteri Pariwisata Thailand, Surasak Phancharoenworakul, pada Selasa, 29 September, meminta agar jajaran manajemen mengambil langkah yang lebih cepat dan proaktif dalam menghadapi situasi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah gangguan penerbangan dan pelayanan yang terjadi bersamaan dengan banjir besar di Bangkok.
Bangkok sendiri ditetapkan sebagai wilayah yang terdampak bencana setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Dalam kurun tiga hari, curah hujan tercatat mencapai sekitar 320 milimeter, jumlah yang setara dengan rata-rata curah hujan selama satu bulan September.
Chai Eamsiri Sampaikan Permintaan Maaf
Sebelum keputusan dewan direksi diumumkan, Chai Eamsiri telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas gangguan yang terjadi di Bandara Suvarnabhumi dan dampaknya terhadap operasional Thai Airways.
Chai memiliki sejarah panjang di perusahaan tersebut. Ia bergabung dengan Thai Airways pada 1985 dan kemudian menempati berbagai posisi hingga dipercaya menjadi chief financial officer sebelum akhirnya diangkat sebagai CEO pada 2023.
Di bawah kepemimpinannya, perusahaan melanjutkan proses pemulihan setelah sebelumnya menjalani restrukturisasi besar.
Thai Airways Pernah Jalani Restrukturisasi
Thai Airways mengalami masa sulit pada 2020 ketika perusahaan menjalani proses restrukturisasi di bawah perlindungan kepailitan. Dalam proses tersebut, jumlah tenaga kerja dipangkas secara signifikan dan ukuran armada juga dikurangi.
Setelah menjalani restrukturisasi utang, kondisi keuangan perusahaan kemudian menunjukkan pemulihan. Saham Thai Airways kembali diperdagangkan di bursa pada Agustus setelah perusahaan menyelesaikan tahapan penting dalam program restrukturisasi utangnya.
Hingga 30 Juni, Thai Airways tercatat mengoperasikan 84 pesawat dengan jaringan penerbangan yang mencakup 61 destinasi di 27 negara.
Kini, pencopotan sementara Chai Eamsiri membuka proses evaluasi internal terhadap cara perusahaan menangani krisis banjir dan gangguan operasional yang terjadi di salah satu periode tersulit bagi layanan penerbangan di Bangkok.