Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
MEULABOH, BERITANOW — Harga cabai merah dan cabai rawit di Pasar Induk Bina Usaha Meulaboh, Aceh Barat, melonjak ke kisaran Rp80.000–Rp85.000 per kilogram pada Senin (19/10/2026). Seorang pedagang, Husin, mengatakan cabai merah sebelumnya masih dijual sekitar Rp40.000 hingga Rp55.000–Rp60.000 per kilogram. Ia mengaitkan kenaikan terbaru dengan meningkatnya permintaan masyarakat selama tradisi Maulid.
Lonjakan di Aceh Barat terjadi ketika harga cabai secara nasional memang masih berada pada level tinggi. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional pada 19 Oktober mencatat rata-rata cabai rawit merah Rp100.800 per kilogram, cabai merah besar Rp68.650, dan cabai merah keriting Rp87.300 per kilogram. Artinya, kenaikan di Meulaboh bukan peristiwa yang berdiri sendiri, meski faktor lokal seperti peningkatan konsumsi selama Maulid ikut memperkuat tekanan harga.
Harga pangan juga menjadi isu penting bagi inflasi Aceh. BPS mencatat inflasi tahunan Aceh pada September 2026 mencapai 5,03 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan. Cabai merah termasuk komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga pada bulan tersebut.
Rumah Tangga Mulai Mengatur Ulang Belanja
Bagi rumah tangga, perubahan harga cabai terasa langsung karena komoditas ini digunakan dalam banyak menu sehari-hari. Jika harga bergerak dari sekitar Rp40.000 menjadi Rp80.000 lebih per kilogram, keluarga dengan anggaran belanja tetap harus memilih antara mengurangi jumlah pembelian, mengganti bahan, atau mengurangi pengeluaran lain. Pola semacam ini juga terlihat di Bengkulu, ketika pembeli mengaku mengurangi jumlah cabai yang dibeli setelah harga naik ke kisaran Rp70.000–Rp85.000 per kilogram.
Tekanan tidak hanya berasal dari cabai. Di Meulaboh, harga tomat disebut mencapai Rp18.000 per kilogram, sementara bawang merah dan bawang putih justru turun menjadi sekitar Rp35.000 per kilogram. Pergerakan yang berbeda antar-komoditas menunjukkan bahwa beban belanja dapur tidak selalu naik secara seragam, tetapi cabai tetap menjadi salah satu bahan yang paling mudah terasa karena kenaikannya tajam.
Bagi keluarga yang mengandalkan masakan pedas sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari, pengurangan cabai mungkin terlihat sederhana, tetapi tetap memengaruhi pengeluaran rutin. Kenaikan harga bahan segar juga sering lebih cepat terasa dibandingkan perubahan harga barang tahan lama karena harus dibeli berulang. Karena itu, stabilisasi pangan menjadi penting bukan hanya dalam statistik inflasi, tetapi dalam menjaga daya beli sehari-hari.
Warung Makan Menghadapi Pilihan Sulit
Industri kuliner skala kecil menghadapi tekanan yang berbeda. Warung makan, rumah makan, penjual sambal, dan usaha katering sulit begitu saja mengurangi penggunaan cabai tanpa memengaruhi rasa produk yang menjadi ciri dagang mereka. Pada saat yang sama, menaikkan harga menu berisiko membuat konsumen mengurangi pembelian.
Situasi tersebut menciptakan pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan harga dengan margin keuntungan yang mengecil atau meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan. Tidak ada data dalam sumber yang menunjukkan besarnya dampak terhadap omzet usaha kuliner di Aceh Barat, sehingga efek tersebut belum dapat diukur secara kuantitatif. Namun secara struktur biaya, kenaikan tajam bahan baku jelas menambah tekanan pada usaha yang menggunakan cabai dalam jumlah besar.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menyatakan akan melakukan intervensi. Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UKM Aceh Barat Khairuzzadi mengatakan Dinas Pangan berencana menggelar operasi pasar untuk komoditas yang harganya masih tinggi, disertai skema subsidi agar lebih terjangkau. Langkah tersebut menjadi penting karena lonjakan harga yang berlangsung terlalu lama berisiko memperbesar beban rumah tangga sekaligus biaya produksi usaha makanan.
Kenaikan cabai di Aceh Barat akhirnya bukan hanya cerita tentang angka Rp85.000 di papan harga pasar. Di belakangnya ada perubahan pola belanja keluarga, tekanan margin usaha kuliner, dan tantangan pemerintah menjaga pasokan ketika permintaan musiman meningkat. Efektivitas operasi pasar berikutnya akan menentukan apakah lonjakan ini hanya menjadi gejolak singkat atau berkembang menjadi tekanan harga yang lebih panjang.(*)