Senin, 19 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

BNPB Kaji Teknologi Dry Ice untuk Atasi Karhutla, Uji Coba di Sumsel Dievaluasi

Tajusa, M. | | 3 mnt baca
BNPB Kaji Teknologi Dry Ice untuk Atasi Karhutla, Uji Coba di Sumsel Dievaluasi
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tengah mengkaji pemanfaatan teknologi dry ice untuk karhutla di Indonesia. Kajian tersebut dilakukan setelah teknologi ini menjalani dua kali uji coba di Sumatera Selatan.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, pihaknya telah menerima laporan mengenai pelaksanaan operasi penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Informasi tersebut disampaikan oleh komandan satuan tugas operasi yang terlibat dalam penanganan kebakaran di wilayah tersebut.

Menurut Kristomei, evaluasi diperlukan untuk mengetahui efektivitas berbagai langkah yang telah diterapkan di lapangan. Dengan demikian, upaya penanggulangan karhutla diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih cepat, tepat, dan efektif.

BNPB Evaluasi Uji Coba Teknologi Dry Ice di Sumatera Selatan

Teknologi dry ice menjadi salah satu pendekatan yang sedang dikaji untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Penggunaannya diuji coba di Sumatera Selatan sebagai bagian dari upaya membantu penanganan karhutla, sesuai arahan Presiden.

BNPB menyatakan bahwa teknologi tersebut telah menjalani dua kali uji coba. Hasil pelaksanaannya kini menjadi bahan evaluasi untuk menilai sejauh mana metode tersebut dapat membantu memicu hujan dan mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan maupun lahan.

Evaluasi ini menjadi tahapan penting sebelum pemerintah mempertimbangkan penerapan teknologi serupa secara lebih luas. Efektivitas di lapangan, kebutuhan operasional, serta biaya pelaksanaan menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan langkah berikutnya.

Kristomei berharap hasil kajian dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai manfaat teknologi tersebut. Apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa metode ini efektif dan layak diterapkan, penggunaannya berpotensi dipertimbangkan untuk wilayah lain yang membutuhkan dukungan penanganan karhutla.

Ia menegaskan bahwa penerapan teknologi baru perlu mempertimbangkan manfaat dan efisiensi biaya agar dapat digunakan sesuai kebutuhan penanggulangan bencana.

"Kalau memang teknologi ini dianggap bagus, tidak terlalu makan banyak biaya, dan bisa kita aplikasikan di seluruh wilayah Indonesia, ya kenapa tidak," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BNPB masih menempatkan hasil evaluasi sebagai dasar pertimbangan sebelum mengambil keputusan mengenai perluasan penggunaan teknologi dry ice.

Penanganan Karhutla Membutuhkan Kerja Sama Semua Pihak

Selain mengkaji pemanfaatan teknologi, BNPB menekankan bahwa penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat hanya mengandalkan upaya pemadaman oleh petugas.

Pencegahan juga memerlukan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga perusahaan yang memiliki konsesi lahan.

Menurut Kristomei, upaya pemadaman akan sulit mencapai hasil maksimal apabila praktik pembakaran lahan masih berlangsung. Karena itu, seluruh pihak perlu menjalankan perannya masing-masing untuk mencegah munculnya titik kebakaran baru.

Ia mengajak seluruh unsur terkait untuk memperkuat koordinasi dan bekerja bersama dalam menghadapi karhutla. Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan oleh petugas yang melakukan pemadaman, tetapi juga oleh masyarakat dan berbagai pihak yang berada di wilayah terdampak.

"Mari sama-sama, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, kemudian masyarakat, swasta, kita sama-sama bersatu padu. Kita atasi kebakaran ini, karena dampaknya itu juga semua yang terkena," kata Kristomei.

Kajian terhadap teknologi dry ice menjadi salah satu upaya untuk mencari pendekatan tambahan dalam mendukung operasi penanganan karhutla. Namun, efektivitasnya tetap perlu dibuktikan melalui evaluasi terhadap hasil uji coba yang telah dilakukan.

Di sisi lain, pencegahan kebakaran, pengawasan lahan, dan partisipasi masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla. Teknologi pendukung tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak disertai langkah pencegahan yang konsisten.

Ke depan, hasil evaluasi BNPB terhadap uji coba di Sumatera Selatan akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan apakah teknologi tersebut layak digunakan di wilayah lain.

Komentar (0)