Blue Fire Papandayan Tak Lagi Terlihat, Gas Vulkanik Masih Diwaspadai
Dapatkan Update Berita Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
GARUT, BERITANOW.Com — Fenomena blue fire Papandayan di kawasan Kawah Manuk, Kompleks Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini sudah tidak terlihat. Meski nyala biru tersebut telah berhenti, Badan Geologi masih meminta masyarakat dan wisatawan mewaspadai keberadaan gas vulkanik di sekitar lokasi.
Berdasarkan hasil pemantauan hingga 26 September 2026, sinar api atau blue fire Papandayan yang sebelumnya teramati di area Kawah Manuk sudah tidak muncul lagi. Aktivitas termal di lokasi juga menunjukkan kecenderungan menurun.
Namun, hilangnya nyala biru tidak serta-merta berarti kawasan tersebut bebas dari potensi bahaya. Badan Geologi mencatat pelepasan gas vulkanik di sekitar lokasi masih signifikan. Bau sulfur yang menyengat juga masih tercium pada arah angin dari titik manifestasi panas.
Kondisi tersebut membuat area sekitar Kawah Manuk tetap perlu diwaspadai. Konsentrasi gas dapat meningkat secara tiba-tiba dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan apabila seseorang terpapar secara langsung, terutama di kawasan yang berada pada arah pergerakan angin.
Fenomena blue fire Papandayan sebelumnya teramati pada 23 hingga 25 September 2026. Badan Geologi menjelaskan, kemunculan sinar api tersebut berkaitan dengan pelepasan panas yang cukup tinggi pada manifestasi panas baru di kompleks Kawah Manuk hingga mampu menyebabkan pembakaran material permukaan.
Material sisa pembakaran juga ditemukan di sekitar lokasi. Fenomena tersebut bukan merupakan indikator bahwa Gunung Papandayan sedang mengalami erupsi. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, tingkat aktivitas Gunung Papandayan masih berada pada Level I atau Normal.
Meski demikian, Badan Geologi tetap mengingatkan adanya sejumlah potensi bahaya di kompleks kawah aktif. Masyarakat, wisatawan, pendaki, dan pengelola kawasan diminta tidak beraktivitas atau menginap dalam radius 500 meter dari bukaan kawah aktif, termasuk Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, serta Kawah Manuk atau Balagadama.
Pengunjung juga diminta mewaspadai kemungkinan peningkatan konsentrasi gas beracun secara mendadak. Selain itu, terdapat potensi letusan yang dapat terjadi tiba-tiba tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas serta risiko longsor pada dinding kawah.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas di Kawah Manuk. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila fenomena blue fire Papandayan kembali muncul atau terjadi perubahan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Papandayan juga diminta menerapkan jarak aman apabila sinar api kembali terlihat. Langkah tersebut diperlukan karena lokasi manifestasi panas berada relatif dekat dengan jalur pendakian utama dan area perkemahan.
Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Gunung Papandayan akan terus dievaluasi secara berkala maupun apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Masyarakat dan wisatawan diminta mengikuti informasi resmi terkait perkembangan Gunung Papandayan sebelum melakukan aktivitas di kawasan tersebut.