Senin, 26 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

Biaya Produksi Beras RI Rp14.000, Vietnam dan Thailand Rp4.000

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Biaya Produksi Beras RI Rp14.000, Vietnam dan Thailand Rp4.000
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM — Biaya produksi beras di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah muncul perbandingan mencolok dengan Vietnam dan Thailand. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti angka biaya produksi beras di Indonesia yang disebut mencapai Rp14.000, sedangkan Vietnam dan Thailand dilaporkan hanya sekitar Rp4.000. Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efisiensi produksi dan daya saing beras Indonesia di tengah persaingan pasar regional.

Perbandingan biaya produksi itu menjadi perhatian karena beras merupakan komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Tingginya ongkos produksi berpotensi memengaruhi harga jual gabah maupun beras di tingkat konsumen. Namun, perbandingan angka tersebut perlu dilihat berdasarkan kesamaan komponen biaya, satuan pengukuran, dan tahapan produksi yang digunakan.

Biaya Produksi Beras Indonesia Jadi Sorotan

Angka Rp14.000 yang dikaitkan dengan biaya produksi beras di Indonesia perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan komponen biaya yang dihitung. Biaya produksi dapat mencakup pengolahan lahan, benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, irigasi, pemanenan, hingga penggilingan. Perbedaan metode perhitungan dapat menghasilkan angka yang berbeda meskipun komoditas yang dibandingkan sama.

Selain itu, kondisi geografis dan struktur pertanian setiap negara turut memengaruhi biaya produksi. Skala usaha tani, mekanisasi, produktivitas lahan, sistem irigasi, serta akses petani terhadap sarana produksi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan. Karena itu, angka biaya produksi tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa memastikan bahwa dasar perhitungannya setara.

Vietnam dan Thailand Jadi Pembanding

Vietnam dan Thailand dikenal sebagai negara produsen beras di Asia Tenggara. Keduanya memiliki sektor pertanian padi yang berperan penting dalam perekonomian dan perdagangan pangan. Perbandingan dengan kedua negara tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi Indonesia untuk mengidentifikasi peluang peningkatan efisiensi usaha tani.

Jika perbedaan biaya produksi benar-benar sebesar yang disebutkan, pemerintah perlu mengidentifikasi faktor utama yang menyebabkan kesenjangan tersebut. Evaluasi dapat mencakup efisiensi penggunaan pupuk, ketersediaan alat dan mesin pertanian, pengelolaan air, produktivitas panen, serta biaya distribusi. Langkah tersebut penting agar kebijakan yang diambil dapat menyasar persoalan mendasar, bukan sekadar menekan harga di tingkat petani.

Efisiensi Harus Tetap Melindungi Petani

Upaya menekan biaya produksi perlu diikuti dengan kebijakan yang menjaga pendapatan petani. Efisiensi yang hanya berorientasi pada penurunan harga tanpa memperhitungkan biaya usaha tani berisiko mengurangi insentif bagi petani untuk terus berproduksi. Karena itu, peningkatan produktivitas dan penurunan biaya harus berjalan beriringan dengan perlindungan harga gabah yang layak.

Pemerintah juga perlu memperkuat akses petani terhadap teknologi pertanian, pupuk, benih berkualitas, pembiayaan, dan infrastruktur pascapanen. Perbaikan pada aspek tersebut dapat membantu mengurangi pemborosan sekaligus meningkatkan hasil panen. Dengan demikian, daya saing beras Indonesia dapat diperkuat tanpa mengorbankan kesejahteraan produsen di dalam negeri.

Perbandingan biaya produksi beras Indonesia dengan Vietnam dan Thailand pada akhirnya perlu ditindaklanjuti melalui data yang terukur dan dapat diperbandingkan. Transparansi komponen biaya akan membantu pemerintah menentukan kebijakan yang lebih tepat untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. (*)

Komentar (0)