Bendungan Karian Surut, Kampung Somang yang Tenggelam Kembali Terlihat
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
LEBAK, BERITANOW.COM – Menyusutnya permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, kembali memperlihatkan sisa-sisa permukiman yang sebelumnya terendam. Deretan bangunan rumah tanpa atap di kawasan Kampung Somang kini terlihat seiring berkurangnya ketinggian air waduk di tengah kondisi kekeringan yang dikaitkan dengan fenomena El Niño.
Pemandangan bendungan karian Surut tersebut menarik perhatian karena memperlihatkan kembali jejak kehidupan masyarakat yang pernah bermukim di kawasan itu. Kampung Somang diketahui telah ditinggalkan warga sejak 2023 sebagai bagian dari proses penggenangan wilayah untuk pembangunan Bendungan Karian.
Selain Somang, sejumlah kawasan lain, termasuk Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang, juga disebut mengalami kondisi serupa ketika permukaan air menyusut.
Kampung Somang Muncul Saat Air Bendungan Karian Menyusut
Surutnya air waduk membuat bagian-bagian bangunan yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kembali tampak. Sisa dinding rumah dan struktur permukiman menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat tinggal masyarakat sebelum berubah menjadi bagian dari area bendungan.
Di antara reruntuhan bangunan itu, terdapat satu bangunan yang masih menarik perhatian, yakni Masjid Al Mujahidin. Masjid tersebut masih terlihat berdiri dengan kubah berwarna biru serta menara yang tetap tampak utuh.
Keberadaan masjid ini memiliki arti tersendiri bagi masyarakat yang pernah tinggal di Kampung Somang. Bangunan tersebut disebut mempunyai sejarah panjang dan diyakini telah berdiri sejak masa kolonial Belanda.
Maman, warga yang dahulu tinggal di dekat masjid, menuturkan bahwa bangunan itu didirikan oleh sosok yang dikenal sebagai Abuya. Ia juga menyebutkan bahwa masjid tersebut pernah menjalani renovasi sekitar 15 tahun sebelum keterangannya disampaikan.
“Yang mendirikan Abuya, katanya dibangun sejak zaman Belanda. Tapi baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu,” ujar Maman.
Keterangan tersebut menggambarkan keterikatan masyarakat dengan bangunan keagamaan yang menjadi bagian dari sejarah permukiman lama. Meski demikian, kepastian usia bangunan dan statusnya sebagai cagar budaya memerlukan verifikasi melalui sumber sejarah atau instansi terkait.
Pernah Menjadi Lokasi Syuting Film Horor
Kampung Somang juga pernah dimanfaatkan sebagai lokasi pengambilan gambar film horor berjudul Jembatan Shiratal Mustaqim. Kegiatan syuting tersebut berlangsung pada akhir 2024 hingga awal 2025 berdasarkan informasi dalam bahan pemberitaan.
Dalam proses produksinya, warga setempat disebut ikut terlibat sebagai figuran maupun anggota tim teknis. Kondisi bangunan yang telah lama ditinggalkan dan suasana kawasan yang berubah akibat penggenangan menjadi latar yang menarik untuk produksi film tersebut.
Kini, ketika air waduk berkurang, sisa-sisa permukiman itu kembali menjadi perhatian. Fenomena tersebut tidak hanya memperlihatkan perubahan bentang alam, tetapi juga membuka kembali cerita mengenai kehidupan warga sebelum kawasan tersebut menjadi bagian dari infrastruktur penyediaan air.
Bendungan Karian merupakan infrastruktur sumber daya air yang dibangun untuk mendukung kebutuhan air di sejumlah wilayah. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 315 juta meter kubik dan dirancang untuk membantu penyediaan air baku, termasuk bagi kawasan Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Pembangunan bendungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat dan kegiatan ekonomi. Selain penyediaan air baku, infrastruktur bendungan juga berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air secara lebih terencana.
Namun, perubahan kondisi cuaca dapat memengaruhi volume air yang tersimpan di waduk. Ketika periode kering berlangsung panjang, berkurangnya aliran masuk dapat membuat permukaan air menurun, meskipun besarnya dampak bergantung pada curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, dan pola penggunaan air.
Karena itu, kemunculan kembali bangunan di Kampung Somang perlu dipahami dengan mempertimbangkan berbagai faktor hidrologis. El Niño dapat meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, tetapi penyusutan air pada bendungan tertentu tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab saja tanpa data pengamatan yang memadai.
Fenomena Surutnya Waduk
Munculnya kembali sisa permukiman di sekitar Bendungan Karian memberikan gambaran mengenai perubahan fungsi suatu kawasan setelah pembangunan infrastruktur berskala besar. Area yang sebelumnya menjadi tempat tinggal warga kini berada di wilayah yang tergenang ketika waduk beroperasi.
Peristiwa tersebut juga memperlihatkan pentingnya dokumentasi sejarah permukiman yang terdampak pembangunan. Catatan mengenai rumah, tempat ibadah, serta kehidupan sosial masyarakat dapat membantu menjaga ingatan kolektif dan menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Di sisi lain, pengelolaan Bendungan Karian tetap membutuhkan pemantauan kondisi air secara berkala. Data mengenai curah hujan, debit masuk, volume tampungan, dan kebutuhan distribusi air diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan ketika menghadapi musim kering.
Koordinasi antara pemerintah, pengelola sumber daya air, dan masyarakat juga penting agar ketersediaan air dapat dikelola secara berkelanjutan.
Kembalinya Kampung Somang terlihat di tengah surutnya Bendungan Karian bukan sekadar perubahan pemandangan. Fenomena ini sekaligus menghadirkan kembali jejak sejarah masyarakat Lebak dan menjadi pengingat mengenai pentingnya kesiapan menghadapi perubahan kondisi iklim serta pengelolaan air dalam jangka panjang. (*)