Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
PHNOM PENH, BeritaNow.com — Impian menikmati kehidupan mewah sambil berkeliling dunia berubah menjadi pengalaman tak terduga bagi ratusan penghuni kapal pesiar Villa Vie Odyssey. Kapal yang menawarkan konsep hunian terapung itu mendadak menghentikan pelayarannya di Kamboja setelah biaya bahan bakar melonjak tajam. Sekitar 200 orang yang sebelumnya menganggap kapal tersebut sebagai rumah kini harus mencari tempat tinggal sementara tanpa kepastian kapan perjalanan mereka dilanjutkan.
Villa Vie Odyssey bersandar di Pelabuhan Sihanoukville pada 23 Oktober 2026 untuk kunjungan yang semula dijadwalkan berlangsung lima hari. Kapal berbendera Bahama tersebut membawa 203 penumpang dari 15 negara serta 156 awak. Namun, rencana melanjutkan perjalanan menuju Vietnam berubah ketika operator mengumumkan penghentian operasional.
Kejutan terbesar datang ketika penghuni diminta segera meninggalkan kapal. Wakil Gubernur Provinsi Preah Sihanouk, Long Dimanche, mengatakan mereka hanya diberi waktu sekitar tujuh jam untuk mengemasi barang. Sebagian penumpang memilih meninggalkan Kamboja menggunakan pesawat, sedangkan lainnya masih bertahan di Sihanoukville.
Sudah Beli Hunian, Kini Harus Cari Penginapan
Villa Vie Odyssey bukan kapal pesiar biasa yang menawarkan liburan selama beberapa hari. Operatornya, Villa Vie Residences, menjual konsep tinggal di kapal sambil mengunjungi berbagai negara selama bertahun-tahun. Calon penghuni dapat membeli kabin, menyewanya, atau menggunakan skema sewa yang memungkinkan kepemilikan.
Menurut laporan Bloomberg yang dimuat The Straits Times, harga hunian permanen berkisar dari hampir 130.000 dolar AS hingga sekitar 440.000 dolar AS untuk unit suite. Penghuni juga menghadapi biaya bulanan yang dalam brosur perusahaan mencapai 2.000–10.000 dolar AS. Dengan harga tersebut, pembeli berharap memperoleh pengalaman tinggal sekaligus bepergian tanpa harus terus-menerus berpindah hotel.
Sebagian penghuni bahkan dilaporkan menjual rumah mereka untuk memulai kehidupan baru di atas kapal. Karena itu, perintah turun di Kamboja bukan sekadar pembatalan jadwal wisata bagi semua penumpang. Bagi mereka yang menjadikan Odyssey sebagai tempat tinggal utama, penghentian perjalanan berarti kehilangan akses terhadap rumah terapung yang sudah mereka pilih.
Harga BBM Melonjak, Rencana Keliling Dunia Kandas
Perusahaan menyebut kenaikan harga bahan bakar sebagai penyebab utama penghentian perjalanan. Biaya bahan bakar bulanan yang sebelumnya rata-rata sekitar 1.800 dolar AS per kabin diperkirakan meningkat menjadi 6.000–8.000 dolar AS di beberapa wilayah Asia. Lonjakan tersebut terjadi ketika perang yang melibatkan Iran mengguncang pasar energi dan meningkatkan biaya transportasi internasional.
Villa Vie mengaku sudah mencoba menghemat konsumsi bahan bakar dengan memperlambat pelayaran dan memperpanjang waktu singgah di pelabuhan. Namun, langkah tersebut tidak cukup untuk menutup kenaikan pengeluaran operasional. Perusahaan menyatakan tidak mungkin membebankan seluruh tambahan biaya kepada penghuni tanpa menimbulkan persoalan baru.
Pendiri Villa Vie Residences, Mikael Petterson, mengatakan perusahaan menanggung biaya penginapan dan transportasi lokal bagi penghuni terdampak. Namun, perusahaan belum menyediakan dana untuk membiayai perjalanan mereka keluar dari Kamboja. Kondisi tersebut membuat keputusan pulang ke negara asal atau bertahan sementara menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian penghuni.
Perjalanan Tiga Tahun Berakhir di Tengah Jalan
Odyssey memulai pelayaran dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024 dengan menawarkan perjalanan lintas tujuh benua. Rute yang dipasarkan berlangsung selama tiga tahun, dengan jadwal kunjungan yang masih tercantum hingga November 2027. Kapal tersebut memiliki kapasitas sekitar 650 penghuni, tetapi jumlah orang di dalamnya saat singgah di Kamboja jauh lebih kecil.
Randy Cassingham, salah seorang penghuni yang mengelola blog perjalanan kapal, mengungkap sejumlah masalah yang telah muncul sejak awal pelayaran. Ia menyebut keberangkatan dari Belfast pernah mengalami penundaan beberapa bulan dan jumlah penghuni tidak pernah mencapai kapasitas penuh. Menurutnya, penghentian mendadak menjadi puncak dari berbagai persoalan yang telah dialami selama perjalanan.
Villa Vie kini berupaya mencari pendanaan baru dan melakukan restrukturisasi dalam sekitar 60 hari. Namun, perusahaan mengakui belum ada transaksi pembiayaan yang disepakati dan keberhasilan upaya tersebut belum dapat dipastikan. Tidak ada tanggal resmi yang menjamin para penghuni dapat kembali berlayar menggunakan Odyssey.
Kisah Villa Vie Odyssey memperlihatkan ironi sebuah perjalanan yang dijanjikan sebagai cara menikmati dunia tanpa meninggalkan kenyamanan rumah. Ketika harga energi melonjak, kehidupan di tengah laut ternyata tetap bergantung pada kemampuan perusahaan membayar biaya operasional. Bagi ratusan penghuni yang kini berada di Kamboja, pertanyaan paling mendesak bukan lagi negara mana yang akan mereka kunjungi, melainkan kapan mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal yang pasti.(*)