Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BeritaNow.com – Bayangkan bangun pagi, membuka aplikasi bank, lalu mendapati uang tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun mendadak tak bisa disentuh. Bukan karena lupa kata sandi, melainkan bank tempat menyimpan uang sedang berada di ambang kehancuran. Itulah mimpi buruk yang menimpa jutaan warga Paraguay ketika Bank Ueno, salah satu bank digital terbesar di negara itu, tersandung krisis keuangan yang akhirnya ikut menggulingkan presidennya.
Skandal Bank Ueno berubah menjadi gempa politik setelah Presiden Paraguay Santiago Peña dimakzulkan parlemen pada Jumat (6/11/2026). Wakil Presiden Pedro Alliana kemudian dilantik menggantikannya, sementara Peña dikenai tahanan rumah terkait penyelidikan dugaan penyalahgunaan pengaruh dan hubungan bisnisnya dengan bank tersebut. Kejatuhan seorang presiden hanya beberapa hari setelah intervensi regulator memperlihatkan betapa cepat krisis perbankan dapat menjalar ke pusat kekuasaan.
Ironisnya, Bank Ueno semula menjadi simbol kemajuan layanan keuangan digital Paraguay. Bank yang menawarkan kemudahan transaksi dan berbagai promosi itu mengklaim memiliki sekitar tiga juta nasabah, sebagian besar berasal dari masyarakat yang membutuhkan akses perbankan. Kini, mereka justru menghadapi pertanyaan paling mendasar: kapan uang mereka bisa kembali digunakan?
Ketika Bank Bangkrut, Uang Rakyat Ikut Terkunci
Krisis bermula ketika Bank Sentral Paraguay mengambil tindakan penyelesaian terhadap Ueno setelah menemukan rasio kecukupan modalnya jatuh hingga kurang dari separuh batas minimum yang dipersyaratkan. Langkah yang diumumkan pada 3 November itu dilakukan untuk melindungi simpanan nasabah dan mencegah gangguan lebih luas terhadap sistem keuangan. Namun, pembatasan transaksi membuat jutaan orang kesulitan mengakses tabungan, menerima pembayaran, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masalahnya semakin serius karena Ueno tidak hanya menghimpun uang nasabah perorangan. Bank tersebut juga mengelola dana publik sekitar 800 juta hingga 850 juta dolar AS, termasuk dana yang berkaitan dengan lembaga pensiun dan jaminan sosial Paraguay. Ketika sebuah bank yang menampung uang pensiun mengalami kegagalan, persoalannya bukan lagi sekadar neraca perusahaan, melainkan juga keamanan ekonomi masyarakat.
Pemerintah Paraguay berupaya mempercepat pengembalian simpanan melalui mekanisme penjaminan dan pembayaran bertahap. Menurut laporan Al Jazeera, perlindungan simpanan diperkirakan mencakup seluruh saldo sekitar 97 persen nasabah, meskipun proses pengembaliannya masih berlangsung. Bagi pensiunan yang membutuhkan uang untuk belanja atau pengobatan, janji perlindungan tentu penting, tetapi kepastian kapan dana bisa digunakan jauh lebih menentukan.
Jejak Bisnis Presiden dan Kredit Orang Dalam
Penyelidikan kemudian mengungkap dugaan praktik pemberian pinjaman berisiko kepada perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemilik Bank Ueno. Mengutip laporan Al Jazeera, sekitar 146 juta dolar AS disalurkan kepada perusahaan yang terkait dengan Grupo Vázquez, kelompok usaha pengendali bank tersebut. Regulator juga menemukan persoalan pencatatan keuangan yang diduga membuat kondisi permodalan Ueno terlihat lebih sehat daripada kenyataannya.
Di sinilah nama Santiago Peña masuk dalam pusaran perkara. Mantan presiden tersebut pernah memiliki saham di Grupo Vázquez hingga Maret 2025 dan menunjuk Carlos Carvallo, mantan pimpinan perusahaan keuangan pendahulu Ueno, sebagai gubernur bank sentral pada 2023. Hubungan itu memunculkan pertanyaan serius mengenai konflik kepentingan dan independensi pengawasan perbankan, meskipun kedekatan bisnis tidak dengan sendirinya membuktikan tindak pidana.
Peña membantah melakukan pelanggaran dan menyatakan persoalan bank harus diselesaikan melalui mekanisme hukum. Namun, tekanan publik dan parlemen terus membesar hingga upaya pengunduran dirinya tidak menghentikan proses pemakzulan. Kini, penyelidikan terhadap mantan pejabat pemerintah dan pengelola bank menjadi ujian apakah hubungan antara kekuasaan dan bisnis dapat diperiksa secara independen.
Presiden Berganti, Tabungan Belum Tentu Kembali
Kejatuhan Peña tidak otomatis menyelesaikan persoalan nasabah Bank Ueno. Presiden baru Pedro Alliana menghadapi tuntutan untuk memastikan proses pengembalian simpanan berjalan, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan memulihkan kepercayaan masyarakat. Pada saat bersamaan, aparat penegak hukum harus memastikan siapa yang bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran tanpa mendahului putusan pengadilan.
Skandal ini juga memperlihatkan bahaya ketika pertumbuhan bank berlangsung lebih cepat daripada kemampuan pengawasan lembaga keuangan. Kemudahan aplikasi, promosi menarik, dan ekspansi agresif memang dapat memperluas akses masyarakat terhadap perbankan. Namun, seluruh kemajuan itu kehilangan makna apabila pengelolaan risiko dan perlindungan dana nasabah tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Bagi Paraguay, Bank Ueno kini menjadi simbol runtuhnya kepercayaan yang dampaknya menjangkau jauh melampaui sektor keuangan. Krisis tersebut telah menjatuhkan seorang presiden, tetapi belum sepenuhnya menjawab kecemasan masyarakat yang uangnya masih tertahan. Sebab, dalam skandal perbankan, seorang presiden bisa kehilangan jabatannya dalam sehari, sementara rakyat mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mendapatkan kembali tabungannya.(*)