Minggu, 08 November 2026
Breaking News
Internasional

Banjir Gaza: 70 Ribu Tenda Tenggelam, Warga Tidur di Lumpur

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Banjir Gaza: 70 Ribu Tenda Tenggelam, Warga Tidur di Lumpur
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM — Gaza tidak hanya berurusan dengan bom dan blokade. Musim dingin pertama sejak gencatan senjata ternyata membawa bencana yang tak kalah kejam: hujan deras. Dalam waktu kurang dari 12 jam, sekitar 70.000 tenda pengungsian terendam banjir, dan puluhan ribu orang kembali kehilangan tempat berlindung.

Otoritas Pertahanan Sipil Gaza menerima lebih dari 1.500 panggilan darurat dalam sepuluh jam pertama badai. Ketinggian air di sejumlah lokasi pengungsian naik hingga 30–40 sentimeter. Di beberapa titik, air bahkan mencapai 1,5 meter.

Air Bercampur Limbah, Anak-Anak Menggigil
Bayangkan tenda yang telah ditambal dan dijahit ulang selama empat tahun terakhir. Itulah yang dihuni Rana Adnan Hmeida, 29 tahun, di kamp al-Mina, Gaza utara. Ia dan suaminya terjaga sejak tengah malam ketika air merembes masuk dan membasahi seluruh kasur, selimut, serta pakaian anak-anak mereka.

“Anak saya yang berusia dua bulan kedinginan. Saya harus memilih: memeluk anak-anak atau menahan air? Anginnya sangat kencang, kami merasa tenda ini akan tercabut dari tanah,” kata Rana, seperti dikutip Al Jazeera.

Di Deir el-Balah, Maryam Odeh, 34 tahun, tidak lagi punya jawaban untuk pertanyaan anaknya. “Anak saya bertanya, malam ini kita tidur di mana? Saya tidak tahu harus jawab apa,” ujarnya.

Air yang menggenang bukan hanya hujan. Di beberapa kamp, air bercampur limbah dan kotoran. Direktur Rumah Sakit al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, memperingatkan lonjakan infeksi saluran cerna, pernapasan, dan kulit. Ia bahkan memperkirakan kematian bayi baru lahir yang tidak bisa mendapatkan kehangatan di dalam tenda.

Bukan Hanya Tenda yang Roboh
Badai juga meruntuhkan dinding dan atap bangunan yang sudah rusak akibat serangan udara. Otoritas Gaza mencatat puluhan dinding runtuh, menyebabkan sejumlah orang luka-luka, sebagian dalam kondisi serius. Lebih dari 2.000 bangunan disebut berisiko ambruk.

Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian langsung akibat badai ini mencapai sekitar 3 juta dolar AS. Namun angka itu kemungkinan baru permukaan, karena kerusakan pada infrastruktur drainase yang sudah hancur belum dihitung.

Gaza membutuhkan setidaknya 300.000 tenda tambahan dan 200.000 unit hunian prefabrikasi. Namun Israel disebut belum mengizinkan masuknya rumah-rumah prefabrikasi sejak gencatan senjata. Hanya tenda dalam jumlah terbatas yang diizinkan masuk.

“Kami Tidak Punya Apa-Apa”
Yang paling menyayat adalah pengakuan para petugas penyelamat sendiri. Raed al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil Gaza, mengatakan timnya tidak memiliki satu pun terpal atau tenda untuk dibagikan. “Kami hanya bisa menyelamatkan nyawa, dan itu tidak cukup,” ujarnya.

Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, menyatakan pihaknya telah menyerukan bantuan darurat kepada komunitas internasional. “Kami tidak bisa menghadapi badai ini sendirian,” katanya.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat sekitar 1,98 juta orang—atau 94 persen populasi Gaza—membutuhkan tempat tinggal dan bantuan esensial lainnya. Sebanyak 58 persen di antaranya menghadapi kebutuhan tempat tinggal yang kritis atau katastrofik.

Mengapa Ini Penting?
Gencatan senjata Oktober 2025 tidak mengakhiri penderitaan warga Gaza. Ia hanya mengubah bentuknya. Dari bom menjadi blokade, dari reruntuhan menjadi tenda yang bocor. Badai ini membuka tabir bahwa “perlindungan” yang dijanjikan kepada para pengungsi hanyalah selembar plastik yang sobek diterpa angin.

Jika musim dingin ini berlanjut tanpa pasokan tenda, terpal, dan pemanas yang memadai, krisis kemanusiaan di Gaza akan memasuki babak baru yang sama mematikannya dengan perang itu sendiri. Bukan karena peluru, tetapi karena dingin, penyakit, dan kelalaian dunia yang memilih menutup mata.(*)

Komentar (0)