Senin, 19 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

Asap Karhutla Jakarta Menipis, Pemprov Tetap Siaga Lindungi Warga

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Asap Karhutla Jakarta Menipis, Pemprov Tetap Siaga Lindungi Warga
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW — Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan yang mencapai Jakarta dilaporkan mulai berkurang sejak Jumat (16/10/2026). Meski demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menurunkan kewaspadaan dan tetap mengaktifkan water mist di sejumlah gedung. Langkah ini dipertahankan untuk menekan risiko memburuknya kualitas udara, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Pemprov DKI menyebut terdapat 179 perangkat water mist yang terpasang di 145 gedung di berbagai wilayah Jakarta. Dinas Kesehatan juga diminta berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan agar pelayanan dapat diberikan lebih cepat bila muncul keluhan akibat polusi udara. Selain water mist, operasi modifikasi cuaca tetap disiapkan sebagai opsi bila kondisi memburuk berdasarkan data pemantauan resmi.

Pemerintah juga membuka kemungkinan menerapkan pembelajaran jarak jauh, pembatasan aktivitas luar ruang bagi kelompok rentan, serta imbauan penggunaan masker jika kualitas udara turun secara signifikan. Warga diminta memantau informasi melalui BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup, atau Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Untuk aktivitas di luar ruangan, Pemprov menyarankan penggunaan masker N95 atau KN95.

Anak-anak Lebih Rentan Terpapar
Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan bahwa anak-anak memiliki risiko lebih tinggi ketika terpapar asap karhutla. Sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka masih berkembang, sementara diameter saluran napas lebih kecil dan frekuensi bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Kondisi tersebut membuat jumlah udara tercemar yang masuk relatif lebih besar terhadap berat badan anak.

Asap karhutla juga mengandung partikel halus PM2,5 yang dapat mencapai bagian terdalam paru-paru hingga alveoli. IDAI menjelaskan partikel tersebut berukuran sangat kecil dan dapat masuk ke aliran darah, sedangkan partikel PM10 lebih banyak menimbulkan iritasi pada saluran napas atas. Bayi, balita, anak dengan asma, penyakit jantung atau paru kronik, serta anak yang bergantung pada alat medis termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Risiko tidak hanya berlaku bagi anak-anak. Lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan atau penyakit penyerta juga diminta mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Pemprov DKI meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gangguan pernapasan dan menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 jika membutuhkan pertolongan cepat.

Water Mist Jadi Lapisan Perlindungan, Bukan Solusi Tunggal
Water mist bekerja dengan menyemprotkan kabut air halus ke udara untuk membantu menekan partikel polutan di sekitar area penggunaannya. Karena jangkauannya terbatas, teknologi ini lebih tepat dipahami sebagai salah satu lapisan mitigasi, bukan solusi utama terhadap asap karhutla yang datang dari luar wilayah Jakarta. Pengendalian sumber kebakaran tetap menjadi faktor terpenting agar beban polusi tidak terus berpindah ke kota-kota lain.

Pemprov DKI karena itu menggabungkan water mist dengan pemantauan kualitas udara secara real time, koordinasi bersama BMKG dan BPBD, kesiapan fasilitas kesehatan, serta opsi modifikasi cuaca. Pendekatan berlapis ini menjadi penting karena perubahan arah angin atau peningkatan kembali asap dapat mengubah kondisi udara dalam waktu relatif cepat. Berkurangnya asap saat ini belum berarti risiko telah sepenuhnya hilang.

Bagi keluarga dengan anak kecil atau lansia, kewaspadaan tetap menjadi langkah paling praktis. Membatasi aktivitas luar ruang ketika udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai, serta mengikuti informasi resmi dapat mengurangi paparan yang tidak perlu. Selama karhutla belum benar-benar terkendali di wilayah sumber, Jakarta masih perlu mempertahankan sistem perlindungan untuk kelompok yang paling rentan.(*)

Komentar (0)