Sabtu, 07 November 2026
Breaking News
Nasional

Arsip HB Jassin Mendunia, Jangan Cuma Jadi Pajangan!

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Arsip HB Jassin Mendunia, Jangan Cuma Jadi Pajangan!
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BeritaNow.com – Di tengah zaman ketika orang lebih sibuk menggulir layar ponsel daripada membuka buku, ribuan dokumen sastra Indonesia justru mendapat pengakuan internasional. Arsip HB Jassin yang menyimpan jejak pemikiran para sastrawan Nusantara kini diakui sebagai warisan dokumenter penting kawasan Asia-Pasifik. Ironisnya, ketika dunia mengakui nilai sejarahnya, muncul pertanyaan apakah masyarakat Indonesia sendiri sudah cukup mengenal kekayaan tersebut.

Koleksi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin resmi tercatat dalam Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) Regional Register. Pengakuan itu diberikan melalui pertemuan MOWCAP ke-11 yang berlangsung di Jakarta pada 2–6 November 2026. Penetapannya menjadi pengakuan atas pentingnya dokumentasi sastra Indonesia dalam sejarah perkembangan intelektual Asia Tenggara.

Penghargaan tersebut bukan sekadar menambah koleksi sertifikat pemerintah daerah. Di dalam arsip yang dihimpun Hans Bague Jassin tersimpan perjalanan gagasan, perdebatan, dan hubungan antarsastrawan yang membentuk wajah kesusastraan modern. Dokumen-dokumen itu memberikan kesempatan kepada generasi sekarang untuk mengenal dunia sastra melalui bukti sejarah, bukan hanya ringkasan dalam buku pelajaran.

Ribuan Dokumen yang Menyimpan Cerita Nusantara
Koleksi yang memperoleh pengakuan MOWCAP mencakup sekitar 9.328 item, mulai dari surat pribadi, manuskrip, kliping surat kabar, hingga rekaman audio. Dokumentasi tersebut berasal dari kegiatan pengarsipan HB Jassin yang dimulai sejak dekade 1930-an. Jejak yang tersimpan tidak hanya berkaitan dengan Indonesia, tetapi juga memperlihatkan hubungan kesusastraan dengan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Di balik setiap dokumen terdapat kemungkinan cerita yang tidak ditemukan dalam buku sastra biasa. Surat-menyurat antarpengarang, misalnya, dapat memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan berkembang, diperdebatkan, atau memperoleh pengaruh dari lingkungan sosialnya. Arsip semacam ini memungkinkan peneliti menelusuri hubungan intelektual lintas negara yang turut membentuk perkembangan sastra Asia Tenggara.

Nilai historis tersebut membuat koleksi HB Jassin menjadi sumber penting bagi penelitian kebudayaan. Melalui dokumen asli, mahasiswa dan peneliti dapat menguji kembali berbagai penafsiran mengenai perkembangan sastra Indonesia. Dengan demikian, arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama yang menunggu dibersihkan dari debu, melainkan sumber pengetahuan yang terus dapat dibaca ulang.

Dunia Mengakui, Indonesia Jangan Sampai Lupa
Pengakuan MOWCAP menempatkan koleksi HB Jassin bersama warisan dokumenter penting dari berbagai negara Asia-Pasifik. Dalam siklus 2025–2026, sebanyak 21 koleksi baru masuk register regional tersebut, sehingga keseluruhan daftar mencapai 106 koleksi dari 29 negara. Indonesia juga berhasil mencatatkan naskah Bo' Sangaji Kai dan Kidung Bhuwana Wināśa dalam penetapan yang sama.

Namun, pengakuan internasional tidak otomatis menjamin sebuah arsip semakin dikenal masyarakat. Tanpa akses yang mudah, digitalisasi, dan program pendidikan yang menarik, dokumen berharga tetap berisiko menjadi konsumsi terbatas kalangan akademisi. Pemerintah dan pengelola memiliki tantangan mengubah kebanggaan atas pengakuan internasional menjadi manfaat nyata bagi publik.

Persoalannya juga menyangkut cara generasi muda berinteraksi dengan sejarah kesusastraan. Di era video pendek dan kecerdasan buatan, arsip sastra perlu diperkenalkan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan pembaca modern. Pameran interaktif, katalog digital, serta program kolaborasi dengan sekolah dan komunitas dapat menjadi pilihan untuk memperluas jangkauannya.

Jangan Berhenti pada Piagam Penghargaan
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menyebut pengakuan ini menunjukkan nilai dokumentasi Jakarta bagi masyarakat internasional. Sertifikat pengakuan tersebut kemudian diserahkan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (6/11/2026). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan komitmennya menjaga arsip dan memperluas pemanfaatannya bagi generasi mendatang.

Komitmen tersebut membutuhkan langkah yang lebih konkret daripada sekadar seremoni. Arsip fisik memerlukan perawatan, pengamanan, dan pengelolaan profesional, sementara akses digital membutuhkan infrastruktur serta pengaturan hak cipta yang jelas. Tanpa investasi berkelanjutan, pengakuan internasional belum tentu diikuti peningkatan kualitas layanan bagi peneliti maupun masyarakat.

Penting untuk dicatat, keberhasilan pelestarian arsip HB Jassin tidak cukup diukur dari jumlah penghargaan yang diterima. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak orang dapat mempelajari, menggunakan, dan mengembangkan pengetahuan dari dokumen tersebut. Jangan sampai dunia sibuk mengagumi warisan sastra Indonesia, sementara pemilik warisannya sendiri justru lebih mengenal cerita dari layar ponsel daripada sejarah para penulis bangsanya.(*)

Komentar (0)