Kamis, 15 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Antrean BBM di Bali Tembus 2 Km, Warga Terjebak Macet

Tajusa, M. | | 4 mnt baca
Antrean BBM di Bali Tembus 2 Km, Warga Terjebak Macet
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

DENPASAR, BERITANOW.COM – Gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bali masih menimbulkan persoalan bagi masyarakat pada Rabu (14/10/2026). Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan semakin panjang, bahkan mencapai lebih dari dua kilometer dan meluas hingga ke jalan lingkungan serta gang permukiman.

Kondisi tersebut tidak hanya membuat pengendara harus menunggu lama untuk mendapatkan bahan bakar, tetapi juga memicu kemacetan di sejumlah kawasan. Barisan kendaraan yang memanjang hingga jalan kecil turut menghambat mobilitas warga, termasuk akses keluar-masuk lingkungan tempat tinggal.

Krisis BBM di Bali memasuki hari ketiga berdasarkan laporan yang menjadi bahan pemberitaan ini. Pada Rabu sekitar pukul 05.00 WITA, antrean masih terlihat di sejumlah SPBU di Denpasar, termasuk kawasan Gatot Subroto Tengah, Ubung, Ahmad Yani Utara, Gatot Subroto Timur, dan Tohpati.

Kepadatan serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Badung, Tabanan, dan Gianyar. Beberapa lokasi yang disebut mengalami antrean antara lain Sakah Batuan, Ketewel, Sanding Tampaksiring, dan Lebih.

Panjangnya antrean membuat sebagian pengendara menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi BBM. Situasi ini juga berdampak pada kelancaran lalu lintas, terutama ketika kendaraan yang mengantre mengambil sebagian ruang jalan.

Gangguan lalu lintas akibat antrean bahan bakar juga dilaporkan terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam. Sekitar pukul 21.00 WITA, kendaraan roda dua dan roda empat memadati dua SPBU di sekitar persimpangan Jalan Marlboro dan Teuku Umar Barat, Denpasar.

Kondisi tersebut membuat arus kendaraan di sekitar lokasi menjadi semakin padat. Antrean yang meluas menunjukkan bahwa persoalan pasokan BBM tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pengisian bahan bakar, tetapi juga berdampak pada kegiatan masyarakat sehari-hari.

Situasi ini memunculkan desakan agar pemerintah dan instansi terkait segera mengidentifikasi hambatan distribusi. Penanganan dinilai perlu dilakukan secara terkoordinasi agar pasokan kembali lancar dan antrean tidak terus meluas ke jalan permukiman.

Pengusaha sekaligus politisi Ir. A.A. Susruta Ngurah Putra menilai persoalan distribusi BBM semestinya diantisipasi melalui koordinasi yang efektif antarlembaga. Ia meminta pejabat dan instansi terkait turun langsung untuk mengetahui hambatan yang terjadi di lapangan.

Menurut Susruta, langkah penanganan tidak seharusnya baru terlihat setelah masyarakat mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar. Ia mempertanyakan efektivitas koordinasi dalam menjaga kelancaran distribusi agar gangguan pasokan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Ia juga menekankan bahwa penyelesaian masalah membutuhkan tindakan konkret, bukan hanya pernyataan kepada publik. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera mencari penyebab hambatan, mempercepat penyaluran BBM, serta mengurangi kemacetan yang timbul akibat antrean kendaraan.

Susruta berharap masyarakat segera mendapatkan kepastian pasokan sehingga aktivitas ekonomi maupun mobilitas sehari-hari dapat kembali berjalan normal.

Desakan percepatan penanganan juga disampaikan anggota Komisi III DPR RI, I Nyoman Parta. Ia meminta Pertamina mempercepat upaya pemulihan pasokan BBM yang terganggu dan berdampak pada aktivitas warga di Bali.

Sebagai langkah sementara untuk menekan mobilitas, Parta mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). Ia juga mendorong agar pembelajaran daring dapat dipertimbangkan untuk sekolah dan perguruan tinggi selama beberapa hari.

Usulan tersebut dimaksudkan sebagai salah satu opsi untuk mengurangi pergerakan kendaraan ketika antrean BBM masih terjadi. Namun, penerapannya tetap memerlukan pertimbangan dan keputusan dari pihak berwenang.

Selain itu, Parta meminta Polda Bali mengawal penyaluran BBM dari depo menuju SPBU. Pengawalan diharapkan membantu memperlancar perjalanan kendaraan pengangkut bahan bakar sekaligus meminimalkan hambatan selama proses distribusi.

Pertamina Jelaskan Kendala Pembongkaran Kargo

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas antrean panjang yang terjadi.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam bahan pemberitaan, keterlambatan pasokan salah satunya berkaitan dengan kendala pada jangkar kapal ketika proses pembongkaran kargo. Akibatnya, jadwal yang semula direncanakan berlangsung sekitar pukul 06.30 WITA bergeser hingga sekitar pukul 22.00 WITA.

Perubahan jadwal tersebut disebut memengaruhi waktu kedatangan pasokan yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan di SPBU. Meski demikian, perkembangan pemulihan distribusi dan kondisi pasokan terbaru masih perlu dipastikan melalui keterangan resmi Pertamina.

Gangguan pada proses pengiriman menjadi salah satu hal yang perlu ditangani agar penyaluran bahan bakar dapat kembali sesuai kebutuhan. Koordinasi antara pemasok, pengelola distribusi, pemerintah daerah, dan aparat terkait juga dinilai penting untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat.

Antrean panjang di berbagai wilayah Bali memperlihatkan besarnya dampak gangguan pasokan terhadap mobilitas masyarakat. Selain menghabiskan waktu pengendara, kondisi tersebut berpotensi menghambat kegiatan ekonomi dan mengganggu akses jalan di lingkungan permukiman.

Percepatan pengiriman BBM, pemantauan kondisi SPBU, serta koordinasi lintas instansi menjadi langkah yang perlu mendapat perhatian. Informasi mengenai ketersediaan pasokan dan perkembangan distribusi juga penting disampaikan secara jelas agar masyarakat dapat merencanakan aktivitasnya.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan memastikan penanganan berjalan efektif hingga antrean berkurang dan pasokan kembali stabil. Bagi masyarakat Bali, kebutuhan utama saat ini adalah kepastian ketersediaan BBM serta pemulihan aktivitas sehari-hari tanpa harus menghadapi antrean panjang berkepanjangan.

Komentar (0)