Kamis, 05 November 2026
Breaking News
Internasional

Agak Laen! Jenderal Israel Tolong Warga Palestina

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Agak Laen! Jenderal Israel Tolong Warga Palestina
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

TEPI BARAT, BeritaNow.com — Di tengah konflik panjang Israel dan Palestina, sebuah pemandangan tidak biasa muncul di kebun zaitun wilayah pendudukan Tepi Barat. Sekelompok mantan petinggi militer Israel yang biasanya identik dengan urusan pertahanan dan operasi tempur justru turun ke ladang membantu petani Palestina memanen zaitun. Mereka datang bukan untuk memimpin operasi militer, melainkan menunjukkan solidaritas kepada warga yang menghadapi ancaman kekerasan pemukim Israel.

Aksi jenderal Israel tolong warga Palestina itu berlangsung di sekitar Desa Qusra, dekat Nablus, Selasa (3/11/2026). Sekitar 30 mantan perwira senior, termasuk enam pensiunan jenderal, bergabung dengan petani setempat. Kehadiran mereka menarik perhatian karena sebagian peserta pernah menduduki jabatan tinggi dalam institusi militer yang selama ini menjadi bagian dari penguasaan Israel atas Tepi Barat.

Mantan Jenderal Turun ke Kebun, Apa Motifnya?
Salah satu penggerak kegiatan tersebut adalah mantan Mayor Jenderal Eyal Ben-Reuven. Kepada Reuters, ia menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak Palestina mengingatkannya pada kisah penderitaan masyarakat Yahudi yang diceritakan orang tuanya. Pengalaman sejarah itu mendorongnya mengorganisasi mantan perwira untuk membantu melindungi petani Palestina.

Ben-Reuven mulai mengumpulkan kelompok tersebut beberapa bulan sebelumnya, setelah melihat peningkatan serangan terhadap warga Palestina. Baginya, kekerasan yang dilakukan pemukim ekstremis tidak dapat dibenarkan atas nama kepentingan Israel. Sikap tersebut menunjukkan adanya penentangan terhadap tindakan pemukim dari kalangan mantan petinggi militer sendiri.

Motivasi lainnya dikemukakan mantan Brigadir Jenderal Jonatan Yoni Shimshoni. Ia menilai kekerasan pemukim merugikan posisi strategis Israel, khususnya dalam hubungan dengan negara-negara Barat dan Amerika Serikat. Selain menaruh perhatian terhadap penderitaan petani, ia juga menentang rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel.

Pohon Zaitun Jadi Saksi Konflik yang Tak Selesai
Bagi petani Palestina, pohon zaitun bukan sekadar tanaman penghasil minyak. Panen tahunan merupakan sumber penghasilan sekaligus bagian dari kehidupan keluarga yang diwariskan antargenerasi. Namun, serangan pemukim dan pembatasan akses lahan membuat kegiatan pertanian semakin berisiko.

Nimr Nazzal, pemilik lahan di sekitar Qusra, mengatakan bahwa kehadiran mantan pejabat militer Israel membantunya mencapai kebun. Menurutnya, serangan pemukim selama ini membuat akses ke pohon zaitun menjadi sangat sulit. Ia juga menuduh aparat militer Israel melindungi pemukim yang melakukan kekerasan, tuduhan yang dibantah pihak militer.

Organisasi hak asasi manusia Israel, Yesh Din, mencatat 180 serangan fisik terhadap pemanen zaitun Palestina selama 35 hari pertama musim panen. Menurut organisasi tersebut, personel militer Israel hadir dalam lebih dari 23 persen insiden kekerasan pemukim yang dicatatnya. Angka itu merupakan hasil pemantauan Yesh Din, bukan keputusan hukum yang menetapkan seluruh aparat yang hadir terlibat dalam serangan.

Ironi Pendudukan: Dulu Berseragam, Kini Membela Petani
Mantan Kolonel Doron Meinert mengemukakan pandangan yang lebih mendasar mengenai konflik tersebut. Ia menyebut pendudukan sebagai persoalan utama yang harus dihadapi masyarakat Israel melalui penyelesaian bersama Palestina. Meinert kini menghabiskan sebagian waktunya menjadi sukarelawan untuk mendukung warga Palestina di Tepi Barat.

Aksi para pensiunan perwira itu menghadirkan ironi yang sulit diabaikan. Orang-orang yang pernah berkarier di lingkungan militer Israel kini membantu melindungi petani Palestina dari kekerasan yang dituduhkan kepada pemukim Israel. Namun, tindakan kemanusiaan beberapa mantan perwira tidak dapat disamakan dengan perubahan kebijakan resmi pemerintah ataupun militer Israel.

Pihak militer Israel menyatakan mengecam kekerasan serta menjalankan tugas menjaga keamanan di Tepi Barat. Sebaliknya, sejumlah warga Palestina dan aktivis menuduh perlindungan terhadap masyarakat setempat masih tidak memadai. Perbedaan pernyataan itu menunjukkan bahwa keselamatan petani tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Bagi keluarga petani Palestina, bantuan memanen zaitun tentu memiliki arti praktis karena mereka membutuhkan akses aman ke lahan sendiri. Namun, keberhasilan satu kegiatan sukarela belum menjamin keselamatan mereka pada musim panen berikutnya. Di tengah konflik yang membuat manusia sering dipisahkan oleh identitas dan seragam, kegiatan di Qusra memperlihatkan bahwa solidaritas masih dapat muncul dari pihak yang tidak diduga.(*)

Komentar (0)