Sebuah kecelakaan yang melibatkan kuda wisata terjadi di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (13/6) siang. Seekor kuda yang biasa digunakan untuk mengangkut wisatawan di kawasan Bromo menabrak sebuah mobil yang sedang terparkir di tepi jalan.
Dalam peristiwa tersebut, joki kuda bernama Tomo (24), warga Desa Ngadirejo, berhasil selamat. Namun, ia mengalami luka di bagian kepala akibat terjatuh saat kecelakaan berlangsung.
Kasi Pemerintahan Desa Ngadisari, Budi Setyo Waluyo, menjelaskan bahwa insiden terjadi di ruas jalan yang memiliki kondisi menurun dan tikungan tajam. Jalan yang licin setelah diguyur hujan diduga menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan.
Menurut Budi, pada jalur tersebut kuda seharusnya tidak ditunggangi, melainkan dituntun oleh pemilik atau joki demi mengurangi risiko kecelakaan.
“Di titik itu memang seharusnya kuda dituntun, karena jalannya menurun dan berbelok. Kuda kan tidak ada sistem pengeremannya. Namun, karena terburu-buru hendak menjemput tamu, kuda tetap dinaiki, sehingga terjadi kecelakaan,” jelasnya.
Saat melintasi lokasi kejadian, kuda yang dikendarai Tomo diduga tidak dapat dikendalikan sehingga menabrak sebuah mobil Toyota Innova yang sedang terparkir di depan salah satu hotel di Desa Ngadisari.
Budi menambahkan bahwa mobil tersebut merupakan milik tamu hotel. Sebelumnya, pemilik kendaraan sudah diminta memarkir mobil di dalam area hotel, namun kendaraan masih berada di bahu jalan sekitar 30 menit sebelum insiden terjadi.
“Kurang lebih mobil itu sudah terparkir di lokasi tersebut selama sekitar setengah jam,” ujarnya.
Benturan menyebabkan bagian depan dan sisi kiri mobil mengalami kerusakan. Sementara itu, Tomo terjatuh dari atas kuda dan mengalami cedera di bagian kepala.
Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Sukapura untuk mendapatkan penanganan medis.
Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, mengatakan bahwa permasalahan tersebut telah diselesaikan melalui musyawarah antara pemilik kuda dan pemilik kendaraan. Pemerintah desa turut memediasi agar kedua belah pihak mencapai penyelesaian secara kekeluargaan.
“Kami memfasilitasi pemilik kuda untuk bertanggung jawab kepada pihak travel atau pemilik kendaraan secara kekeluargaan,” ujarnya.
Sunaryono juga mengungkapkan bahwa kejadian kuda wisata menabrak kendaraan bukanlah yang pertama kali terjadi di kawasan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, peristiwa serupa telah terjadi sebanyak tiga kali.
“Sekitar lima tahun lalu pernah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Kejadian serupa juga terjadi sekitar tiga minggu lalu,” ungkapnya.
Sebagai upaya pencegahan, pemerintah desa berencana melakukan evaluasi menyeluruh, baik melalui peningkatan aspek keselamatan di lapangan maupun pendekatan sosial dan budaya kepada masyarakat setempat.
“Ke depan tentu akan kami evaluasi dan antisipasi agar tidak terulang. Selain upaya fisik dan nonfisik, kami juga akan melakukan upacara adat sesuai kearifan lokal masyarakat Tengger. Kami ingin mencari penyebabnya dan memohon keselamatan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” pungkasnya.
![]()
Be the first to comment