Korban kedua yang berhasil ditemukan oleh Tim SAR dalam peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42-500 akhirnya teridentifikasi. Korban tersebut diketahui bernama Florencia, seorang pramugari yang bertugas dalam penerbangan tersebut. Saat ditemukan, jasadnya berada dalam posisi telungkup dengan kondisi kaki kanan mengalami patah.
Hingga Selasa (20/1/2026), proses pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 masih terus berlangsung. Selain menemukan sejumlah puing badan pesawat, tim SAR gabungan telah mengevakuasi dua korban.
Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan di dalam jurang sedalam sekitar 200 meter di lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1/2025). Sementara korban kedua, yang kemudian diketahui bernama Florencia, ditemukan tidak jauh dari lokasi korban pertama di lereng gunung tersebut.
Saiful Malik, anggota Tim SAR dari Arai Sulsel, mengungkapkan kronologi penemuan korban kedua. Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam hitam khas awak ATR 42-500, celana jeans, serta sepatu kets hitam. Identitas korban diketahui sebagai Florencia Lolita Wibisono (32).
“Nametag-nya masih utuh dan bisa terbaca. Yakni, Florencia. Ditemukan sekitar jam dua siang,” ujar Saiful di posko SAR Tompo Bulu.
Menurutnya, jasad pramugari tersebut ditemukan di sisi lereng gunung. Dari kejauhan, tubuh korban terlihat dalam kondisi telungkup dan tersangkut di dahan pohon. Lokasinya berada sekitar 100 meter sebelum titik ditemukannya bagian depan pesawat. Di bawah lokasi tersebut terdapat jurang sedalam sekitar 300 meter yang rawan longsor dan dipenuhi bebatuan tajam.
“Tanpa kayu yang menyangkut itu, mungkin jatuh lebih dalam,” katanya.
Ia menambahkan bahwa proses evakuasi berlangsung sangat sulit karena cuaca berkabut serta medan yang curam dan licin. Tim SAR harus menggunakan perlengkapan lengkap untuk mengevakuasi korban.
Di sekitar lokasi penemuan korban kedua, tim juga menemukan berbagai puing pesawat, termasuk bagian mesin yang mengalami kerusakan berat. Korban diduga terlempar keluar akibat benturan keras saat pesawat menghantam medan pegunungan.
Kondisi jasad korban dinilai relatif masih utuh, meski tetap diperlukan pemeriksaan lanjutan oleh tim forensik guna memastikan penyebab kematian secara detail.
“Bagian perut agak terburai, kaki patah sebelah kanan. Baju utuh, kepala masih ada. Kita sempat nunggu kantong mayat agak lama sebelum kita mobilisasi semaksimal mungkin ke jalur utama untuk turun,” jelas Saiful.
Sementara itu, Serda Marinir Syamsul Alam dari Tim SAR Yonmarhanlan Makassar menjelaskan bahwa korban kedua ditemukan di kedalaman sekitar 300 meter dengan kondisi cuaca berkabut serta jalur evakuasi yang terjal dan curam. Setelah dimasukkan ke dalam kantong jenazah, jasad korban digantung untuk menjaga posisi tetap aman.
“Kami harus bergerak pelan-pelan, saling mengingatkan, karena satu kesalahan kecil bisa fatal,” ujar Syamsul.
Danrem 142/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan menambahkan bahwa hingga 28 jam sejak ditemukan, jenazah pramugari tersebut masih berada sekitar 100 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
“Posisi jenazah kedua perempuan ini masih di lereng, 100 meter lagi ke puncak,” ujar Andre.
Ia mengungkapkan bahwa hujan lebat disertai badai menjadi tantangan besar bagi personel Tim SAR sejak pagi hari. Meski demikian, ia memastikan upaya evakuasi terus dilakukan secara maksimal.
“Kondisi hujan lebat, pasti lelah. Tapi kita tetap semangat secepatnya bisa membawa jenazah ini,” ujarnya.
Sementara itu, jenazah korban pertama yang telah ditemukan sebelumnya dilaporkan sudah tiba di Kampung Lampesu, Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Selanjutnya, jenazah tersebut dibawa ke RS Bhayangkara Makassar.
Hingga saat ini, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan lokal terus melakukan pencarian dengan bantuan helikopter dan drone untuk pemetaan udara. Namun, kabut tebal kerap menghambat operasi penerbangan. Warga setempat juga turut membantu dengan memberikan informasi jalur alternatif, meski akses menuju gunung tetap dibatasi demi menghindari risiko kecelakaan tambahan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi’i menyampaikan bahwa barang-barang milik pramugari atas nama Esther Aprilita telah ditemukan pada hari ketiga pencarian, Senin (19/1/2016). Barang-barang tersebut meliputi dompet, KTP, tablet, hingga buku catatan harian, dan telah diamankan di posko.
“Antara lain dompet, KTP, diary book, computer tablet, AC Document milik FA flight attendant Esther Aprilita,” ujar Syafi’i dalam pemaparannya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta,
Syafi’i juga menyebutkan bahwa hingga kini tim SAR baru berhasil menemukan dua dari total 10 korban. Ia berharap korban lainnya segera ditemukan, dengan harapan masih ada yang selamat.
“Memang pada saat lihat reruntuhan pesawat, itu serpihan 1 dan yang lain bisa mencapai 700 meter jauhnya. Awalnya kami agak pesimis, tapi saat menemukan kondisi korban dalam kondisi utuh, kami sangat berharap,” sambung Syafi’i.
Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa kecelakaan tersebut masih dalam proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa belum ada kesimpulan terkait penyebab insiden tersebut.
“Belum dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor penyebab kejadian, akan dianalisis lebih lanjut dalam proses investigasi oleh KNKT,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa.
Diketahui, lokasi jatuhnya pesawat berjarak sekitar 26,49 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berada tak jauh dari posko Basarnas terdekat. Pesawat sebelumnya dilaporkan hilang kontak di sekitar kawasan Gunung Bulusaraung.
Pesawat tersebut mengangkut total 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Awak pesawat di antaranya Capt. Andy Dahananto, SIC/FO M. Farhan Gunawan, FOO Hariadi, EOB Restu Adi P, EOB Dwi Murdiono, FA Florencia Lolita, dan FA Esther Aprilita S.
Tiga penumpang lainnya merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan (analis kapal pengawas), Deden Mulyana (pengelola barang milik negara), serta Yoga Naufal (operator foto udara).
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan bahwa kesimpulan awal menyebut kecelakaan ini masuk dalam kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT), berdasarkan temuan awal di lokasi kejadian. Pesawat diduga masih dalam kondisi terkendali sebelum menabrak medan pegunungan.
Namun, kesimpulan tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring berjalannya penyelidikan. “Kami masih menunggu data lengkap, termasuk rekaman penerbangan serta informasi kondisi cuaca,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menyoroti bahwa selain faktor cuaca, kondisi geografis di sekitar lokasi kejadian juga tergolong berisiko karena adanya pegunungan dan rintangan alam lainnya.
“Saya koordinasi dengan BMKG dan memperoleh informasi, saat kejadian terdapat awan tebal di sekitar lokasi,” ujar Lasarus dalam rapat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Ia pun meminta KNKT melakukan investigasi secara menyeluruh dan transparan berdasarkan data teknis yang akurat, mengingat peristiwa ini menjadi perhatian internasional.
“Ini menarik perhatian dunia. Kita harus serius menanganinya, dan sebisa mungkin jangan sampai peristiwa serupa terulang kembali,” pungkasnya.
![]()
Be the first to comment