Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JUBA, BeritaNow.com — Kekerasan antarkomunitas kembali menelan puluhan korban jiwa di Sudan Selatan, negara yang tengah bersiap menyelenggarakan pemilihan umum pertamanya sejak merdeka pada 2011. Sedikitnya 72 orang dilaporkan tewas dan 38 lainnya terluka dalam serangan bersenjata terkait perebutan ternak di Negara Bagian Warrap, Senin (26/10/2026). Serangan tersebut juga mengakibatkan sejumlah rumah dan pasar terbakar, sementara warga terdampak menghadapi kekurangan tempat tinggal, makanan, dan obat-obatan.
Menteri Informasi sementara Negara Bagian Warrap, William Wol Mayom Bol, menyatakan serangan berlangsung di Akop Payam, Kabupaten Tonj North, dekat perbatasan dengan Negara Bagian Unity. Pemerintah daerah menuding kelompok bersenjata dari Kabupaten Mayom dan sebagian komunitas Alabek terlibat dalam penyerangan. Namun, tuduhan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sementara otoritas Unity belum memberikan tanggapan ketika laporan awal diterbitkan.
Menurut pemerintah Warrap, sebanyak 50 korban tewas berasal dari kelompok penyerang, sedangkan 22 lainnya dari komunitas yang menjadi sasaran. Dua perempuan disebut termasuk di antara korban meninggal. Angka tersebut merupakan keterangan pemerintah daerah dan belum diperiksa secara independen melalui data medis atau investigasi lapangan.
Serangan Balasan
Peristiwa terbaru diduga berkaitan dengan rangkaian serangan balasan yang berlangsung beberapa hari sebelumnya. Pemerintah Warrap menyebut delapan warga sipil, termasuk seorang anak perempuan, tewas dalam serangan terpisah di Mading-Juer pada 24 Oktober. Kekerasan tersebut kemudian disusul penyerangan terhadap komunitas lain di kawasan Tonj North.
Dalam serangan Senin, sejumlah ternak dilaporkan dirampas dari kamp peternakan Majak-kou. Pasar Athieng-puol dan Rual-malith juga disebut dibakar, bersama sejumlah rumah di desa-desa sekitar Akop Payam. Besarnya kerugian material maupun jumlah ternak yang hilang belum diketahui.
Laporan terbaru Eye Radio pada Selasa (27/10/2026) bahkan menyebut serangan terpisah kembali terjadi di lima desa Akop Payam. Berdasarkan keterangan sumber lokal, 12 orang lainnya dilaporkan tewas dan 24 terluka dalam kejadian tersebut. Jika digabungkan, kedua peristiwa pada 26–27 Oktober menghasilkan laporan sementara 84 korban tewas dan 62 terluka, tetapi angka terbaru ini masih membutuhkan verifikasi lanjutan.
Mengapa Perebutan Sapi Memicu Konflik?
Di Sudan Selatan, ternak sapi mempunyai arti ekonomi dan sosial yang sangat besar. Selain menjadi sumber kekayaan keluarga, sapi digunakan dalam berbagai kewajiban adat, termasuk pembayaran mahar perkawinan. Kehilangan ternak karena perampasan dapat menimbulkan kerugian ekonomi sekaligus memperuncing ketegangan antarkomunitas.
Penelitian organisasi perdamaian PAX pada Mei 2026 menunjukkan bahwa perampasan ternak di kawasan perbatasan Lakes dan Unity berkaitan dengan persaingan sumber daya, hubungan sosial, dan keterlibatan pemuda bersenjata. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa mekanisme penyelesaian konflik belum sepenuhnya menjangkau kelompok yang terlibat langsung dalam perampasan. Temuan ini memberikan konteks terhadap kekerasan di Sudan Selatan, meskipun bukan investigasi khusus mengenai serangan Warrap.
Ketersediaan senjata api dan persaingan memperebutkan lahan penggembalaan memperburuk keadaan. Reuters sebelumnya melaporkan sedikitnya 49 orang tewas dan 33 terluka dalam serangan terhadap peternak di Tonj North pada Agustus 2026. Pemerintah bahkan telah memberlakukan keadaan darurat selama enam bulan di Warrap pada 2025 untuk meredam kekerasan serupa.
Warga Sipil Jadi Korban
Gubernur Warrap, Angelo Ngot Mayar, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan memerintahkan aparat keamanan membantu evakuasi warga yang terluka. Pemerintah juga menyatakan sedang berkoordinasi dengan otoritas Unity untuk menelusuri ternak yang dirampas serta mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab. Namun, belum ada hasil penyelidikan yang diumumkan secara terbuka.
Kehilangan anggota keluarga, ternak, dan tempat tinggal menciptakan tekanan berlapis bagi masyarakat setempat. Perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia termasuk kelompok yang membutuhkan bantuan mendesak setelah serangan. Pemerintah daerah telah meminta organisasi kemanusiaan menyediakan makanan, obat-obatan, dan tempat berlindung bagi penduduk terdampak.
Kondisi tersebut juga dapat menghambat kegiatan perdagangan dan penghidupan warga. Pembakaran pasar mengganggu akses masyarakat terhadap barang kebutuhan, sedangkan kehilangan ternak dapat menghilangkan aset ekonomi utama keluarga. Meski demikian, jumlah pengungsi dan besarnya kerugian ekonomi belum dapat dipastikan.
Pemilu Pertama Terancam
Kekerasan di Warrap berlangsung menjelang pemilihan umum Sudan Selatan yang dijadwalkan pada 22 Desember 2026. Pemilu tersebut direncanakan menjadi pemilihan nasional pertama sejak negara itu memisahkan diri dari Sudan pada 2011. Namun, konflik antarkomunitas dan ketegangan politik menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan keamanan di berbagai wilayah.
Sudan Selatan pernah mengalami perang saudara berkepanjangan sebelum perjanjian perdamaian ditandatangani pada 2018. Pelaksanaan pemilu kemudian beberapa kali tertunda akibat persoalan keamanan dan belum tuntasnya proses transisi politik. Uni Afrika pada September 2026 kembali mendesak para pihak menghentikan kekerasan serta memastikan persiapan pemilihan berlangsung secara kredibel dan inklusif.
Serangan di Warrap memperlihatkan bahwa tantangan menjelang pemilu tidak hanya berasal dari persaingan elite politik. Keamanan masyarakat di daerah, pemulihan hubungan antarkomunitas, dan perlindungan warga sipil juga menentukan apakah proses demokrasi dapat berlangsung secara luas. Tanpa penanganan siklus kekerasan dan serangan balasan, masyarakat Sudan Selatan berisiko kembali menghadapi ketidakpastian di tengah upaya membangun pemerintahan yang lebih stabil.(*)