Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BeritaNow.com — Penggunaan tanaman herbal untuk mengatasi nyeri sendi semakin mendapat perhatian seiring berkembangnya penelitian mengenai senyawa alami yang berpotensi mengurangi peradangan. Kunyit, jahe, dan cabai termasuk bahan yang akrab dengan masyarakat Indonesia dan telah diteliti manfaatnya untuk kesehatan persendian. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa tidak semua tanaman yang dikenal sebagai obat tradisional memiliki bukti klinis yang cukup untuk dinyatakan efektif mengatasi artritis.
Artritis merupakan kelompok penyakit yang memengaruhi persendian dan dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, serta pembengkakan. Salah satu jenisnya adalah osteoartritis, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan sendi, sedangkan artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan. Perbedaan tersebut penting karena tanaman yang diteliti untuk osteoartritis belum tentu memberikan manfaat serupa bagi penderita artritis reumatoid.
National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), lembaga penelitian kesehatan Amerika Serikat, menjelaskan bahwa sejumlah pendekatan kesehatan komplementer telah diteliti untuk osteoartritis. Namun, bukti mengenai manfaat banyak suplemen masih terbatas dan penggunaannya dapat menimbulkan efek samping maupun interaksi dengan obat. Karena itu, pengobatan herbal tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti pemeriksaan dan terapi medis.
Kunyit dan Jahe Memiliki Bukti Klinis
Kunyit (Curcuma longa) menjadi salah satu tanaman yang paling banyak diteliti karena kandungan kurkuminnya. Senyawa tersebut memiliki aktivitas biologis yang berkaitan dengan proses peradangan. Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan pada 2026 dengan melibatkan 20 uji klinis dan 1.633 peserta menemukan bahwa beberapa formulasi ekstrak kunyit berpotensi membantu menurunkan intensitas nyeri osteoartritis lutut.
Hasil penelitian tersebut tidak berarti seluruh minuman kunyit atau jamu memiliki efek yang sama. Uji klinis umumnya menggunakan ekstrak dengan formulasi dan dosis tertentu, berbeda dari kunyit yang digunakan sebagai bumbu masakan. Selain itu, perbaikan gejala nyeri tidak dapat disamakan dengan kemampuan menyembuhkan atau memperbaiki kerusakan sendi.
Jahe (Zingiber officinale) juga menjadi perhatian penelitian karena mengandung gingerol dan shogaol. Meta-analisis terhadap lima uji klinis dengan 593 peserta yang diterbitkan dalam Osteoarthritis and Cartilage menemukan manfaat relatif kecil terhadap nyeri dan gangguan fungsi sendi dibandingkan plasebo. Namun, peserta yang mengonsumsi ekstrak jahe juga lebih sering menghentikan penggunaannya akibat efek yang tidak diinginkan.
Cabai dan Kemenyan India Punya Cara Kerja Berbeda
Cabai (Capsicum) memiliki senyawa kapsaisin yang menimbulkan sensasi panas dan telah digunakan dalam sejumlah produk pereda nyeri berbentuk krim atau salep. Berbeda dari kunyit dan jahe yang sering diteliti sebagai ekstrak oral, kapsaisin digunakan langsung pada bagian tubuh yang mengalami keluhan. Penelitian klinis menunjukkan bahwa formulasi kapsaisin topikal tertentu berpotensi membantu mengurangi nyeri osteoartritis, meskipun dapat menyebabkan rasa terbakar pada kulit.
Kajian tahun 2024 terhadap delapan uji klinis dengan 498 pasien menemukan hasil yang mendukung potensi pengurangan intensitas nyeri tersebut. Meski demikian, efek samping berupa sensasi panas dan iritasi menjadi pertimbangan penting sebelum penggunaannya. Hasil penelitian ini juga tidak berarti mengonsumsi cabai sebagai makanan memberikan manfaat yang sama dengan penggunaan krim kapsaisin.
Tanaman lainnya adalah kemenyan India (Boswellia serrata), yang mengandung asam boswelat dan telah lama digunakan dalam tradisi Ayurveda. Sejumlah penelitian klinis menunjukkan kemungkinan manfaat ekstraknya terhadap nyeri, kekakuan, dan fungsi lutut. Namun, kemenyan India berbeda secara botani dari kemenyan Sumatra yang umumnya berasal dari genus Styrax, sehingga hasil penelitian terhadap keduanya tidak boleh disamakan.
Willow dan Devil's Claw Masih Membutuhkan Penelitian
Kulit pohon willow dari genus Salix juga memiliki sejarah panjang sebagai bahan tradisional untuk keluhan nyeri. Tanaman ini mengandung salisin, senyawa yang berkaitan dengan sejarah perkembangan obat pereda nyeri. Namun, penelitian klinis menghasilkan temuan berbeda, dengan sebagian menunjukkan manfaat dan penelitian lain tidak menemukan keunggulan bermakna dibandingkan plasebo.
Sementara itu, devil's claw (Harpagophytum procumbens) merupakan tanaman asal Afrika bagian selatan yang digunakan secara tradisional untuk keluhan persendian. Penelitian terhadap ekstrak akarnya menunjukkan kemungkinan manfaat bagi sebagian penderita osteoartritis. Akan tetapi, perbedaan mutu penelitian dan formulasi produk membuat efektivitasnya belum dapat dinyatakan pasti.
Kedua tanaman tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan tradisional tidak selalu diikuti bukti klinis yang konsisten. Penelitian laboratorium dapat menemukan aktivitas biologis suatu senyawa, tetapi efek tersebut belum tentu muncul ketika digunakan manusia. Bahkan hasil penelitian pada manusia masih perlu dinilai berdasarkan jumlah peserta, kualitas metode, dosis, dan keamanan produk.
BPOM Ingatkan Bahaya Klaim Herbal Instan
Di Indonesia, penggunaan tanaman obat menjadi bagian dari tradisi kesehatan masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan industri herbal. Namun, ketersediaan bahan alami tidak otomatis menjamin keamanan dan efektivitas suatu produk. Standardisasi bahan baku, proses produksi, dan pembuktian klinis menjadi unsur penting agar manfaat herbal dapat dinilai secara ilmiah.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada September 2026 mengumumkan temuan 31 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan ilegal berdasarkan pengawasan Mei–Juni. Sebanyak 30 produk ditemukan mengandung bahan kimia obat yang tidak semestinya ditambahkan, sementara satu produk tidak memenuhi persyaratan mutu mikrobiologi. Sebagian produk dipasarkan dengan klaim mengatasi pegal linu, nyeri sendi, rematik, dan asam urat.
Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya kehati-hatian ketika masyarakat memilih produk herbal. Konsumen perlu memeriksa izin edar, komposisi, petunjuk penggunaan, dan kemungkinan interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi. Bagi penderita nyeri sendi berkepanjangan, terutama yang disertai pembengkakan, kemerahan, atau demam, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk menentukan penyebab keluhan.
Penelitian terhadap enam tanaman tersebut menunjukkan adanya potensi pengembangan bahan alami untuk membantu penanganan gejala persendian. Namun, manfaatnya tidak seragam dan sebagian besar penelitian berfokus pada formulasi ekstrak tertentu, bukan penggunaan tanaman secara umum. Tantangan berikutnya bagi industri herbal Indonesia adalah menerjemahkan potensi tersebut menjadi produk yang aman, terstandar, dan didukung bukti klinis yang dapat dipertanggungjawabkan.(*)