Rabu, 21 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

51 Orang Utan Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
51 Orang Utan Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

KALIMANTAN BARAT, BERITANOW.COM – 51 orang utan diselamatkan dari karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. Penyelamatan yang dilakukan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berlangsung di tengah kebakaran hutan dan lahan yang mengancam habitat satwa dilindungi tersebut. Dari puluhan orang utan yang dievakuasi, sejumlah individu ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, terluka, dan membutuhkan perawatan medis.

Informasi yang disampaikan melalui laporan ANTARA pada Senin (19/10/2026) menyebutkan, penyelamatan tersebut berlangsung dalam periode 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026. Dari total orang utan yang dievakuasi, sebanyak 30 individu ditemukan di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit PT KALE.

Proses penyelamatan dilakukan oleh tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, menjelaskan bahwa kebakaran hutan telah menimbulkan ancaman serius bagi kelangsungan hidup orang utan. Sejumlah satwa ditemukan dalam kondisi kurus, stres, mengalami dehidrasi, hingga membutuhkan penanganan medis.

Orang Utan Kehilangan Habitat dan Sumber Makanan

Kebakaran hutan tidak hanya menghancurkan vegetasi, tetapi juga menghilangkan sumber makanan yang dibutuhkan orang utan untuk bertahan hidup. Ketika kawasan hutan terbakar, satwa ini terpaksa berpindah ke wilayah lain untuk mencari makanan dan tempat yang lebih aman.

Dalam proses evakuasi, tim menemukan sejumlah orang utan yang terpisah dari induknya. Kondisi ini menambah kerentanan, terutama bagi individu yang masih berusia muda dan bergantung pada induk untuk bertahan hidup.

Salah satu orang utan bernama Lusi ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Orang utan betina remaja tersebut mengalami sejumlah luka terbuka di tubuhnya. Tim penyelamat memberikan penanganan awal sebelum membawanya ke pusat rehabilitasi untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti ketika api mulai padam. Satwa yang berhasil bertahan dari kebakaran masih menghadapi risiko kekurangan makanan, cedera, dehidrasi, dan gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang rusak.

Selain ancaman api secara langsung, asap kebakaran juga berbahaya bagi kesehatan orang utan. Pada kasus sebelumnya, seekor orang utan jantan bernama Sempurna dilaporkan meninggal setelah mengalami kerusakan paru-paru akut akibat paparan asap kebakaran.

Penyelamatan Harus Diikuti Pemulihan Habitat

Evakuasi menjadi langkah penting untuk menyelamatkan orang utan yang terjebak di kawasan terdampak kebakaran. Namun, upaya konservasi tidak dapat berhenti pada pemindahan satwa dari lokasi berbahaya.

Orang utan yang ditemukan dalam kondisi lemah membutuhkan pemeriksaan kesehatan, perawatan, dan pemantauan sebelum dapat dikembalikan ke habitat yang aman. Sementara itu, individu yang masih berada di kawasan terdampak perlu terus dipantau untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya.

Sebelumnya, delapan orang utan yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, pada 9 Oktober 2026. Pemindahan tersebut dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada satwa kembali hidup di kawasan hutan yang lebih aman.

Persoalan berikutnya adalah memastikan habitat yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan makanan, air, dan ruang jelajah orang utan. Kerusakan hutan yang berkelanjutan dapat membuat satwa semakin sulit bertahan hidup, sekalipun telah berhasil dievakuasi.

Orang utan merupakan satwa yang terancam punah dan memiliki peran penting dalam ekosistem hutan. Karena itu, penanganan karhutla perlu berjalan seiring dengan perlindungan habitat, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta upaya pemulihan ekosistem.

Penyelamatan puluhan orang utan di Kalimantan Barat menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan asap dan lahan terbakar. Bencana ini juga mengancam keberlangsungan satwa liar yang kehilangan ruang hidupnya.

Tanpa perlindungan habitat yang berkelanjutan, upaya penyelamatan berisiko hanya menjadi penanganan sementara atas persoalan lingkungan yang lebih besar. (*)

Komentar (0)