Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BeritaNow.com — Dahulu, mata-mata harus menyembunyikan mikrofon di ruangan seseorang untuk mencuri percakapan rahasia. Kini, teknologi pengawasan dapat mengubah telepon pintar menjadi sumber informasi tanpa disadari pemiliknya. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana penyadapan berkembang dari perangkat fisik sederhana menjadi senjata digital yang mampu menembus sistem keamanan modern.
Di balik perkembangan alat sadap canggih, terdapat industri teknologi yang melibatkan perusahaan swasta, lembaga intelijen, dan pemerintah dari berbagai negara. Sebagian sistem dikembangkan untuk mendukung penyidikan dan keamanan nasional, tetapi penggunaannya juga memicu skandal pelanggaran privasi. Berikut lima teknologi penyadapan yang menonjol dalam sejarah, berdasarkan kemampuan teknis dan pengungkapan yang telah terdokumentasi.
1. The Thing — Uni Soviet: Hadiah yang Bisa Mendengar
Pada 1945, sekelompok anak Soviet menghadiahkan ukiran lambang negara Amerika Serikat kepada Duta Besar AS di Moskow. Tidak ada yang menyangka benda tersebut menyembunyikan perangkat penyadapan bernama The Thing. Alat itu baru ditemukan pada 1952, setelah bertahun-tahun tergantung di kediaman resmi sang diplomat.
Teknologi ciptaan Uni Soviet ini tergolong luar biasa untuk zamannya karena tidak menggunakan baterai. Perangkat bekerja secara pasif ketika mendapat pancaran gelombang radio dari luar ruangan, kemudian memantulkan sinyal yang membawa informasi suara. Dengan teknologi tersebut, sebuah hiasan dinding dapat menjadi alat pengawasan yang sulit dideteksi.
2. StingRay — Amerika Serikat: Menyamar Jadi Menara Seluler
Perkembangan jaringan seluler melahirkan teknologi bernama IMSI catcher, salah satu produk terkenalnya adalah StingRay dari perusahaan Amerika Serikat, Harris Corporation. Perangkat ini meniru fungsi menara pemancar seluler sehingga ponsel di sekitarnya dapat berinteraksi dengan sistem tersebut. Dalam penggunaan penegakan hukum, teknologi ini terutama dikenal untuk mengidentifikasi dan memperkirakan lokasi perangkat.
StingRay menunjukkan bahwa pengawasan tidak selalu membutuhkan akses langsung ke ponsel sasaran. Namun, perangkat ini tidak boleh disamakan dengan spyware yang otomatis dapat membaca seluruh percakapan WhatsApp atau foto pribadi. Departemen Kehakiman AS bahkan menetapkan pembatasan penggunaan cell-site simulator dalam penyidikan pidana, termasuk larangan mengumpulkan isi komunikasi melalui perangkat tersebut.
3. Galileo/RCS — Italia: Komputer Bisa Menjadi Informan
Perusahaan Italia, Hacking Team, mengembangkan Remote Control System atau RCS, yang dikenal melalui nama produk DaVinci dan Galileo. Perangkat lunak ini dirancang untuk melakukan pengawasan terhadap komputer dan perangkat digital yang berhasil disusupi. Peneliti Citizen Lab mendokumentasikan infrastrukturnya pada 2014 serta mengungkap penggunaan teknologi itu terhadap sejumlah sasaran, termasuk jurnalis.
Berbeda dari mikrofon tersembunyi, spyware semacam RCS bekerja di dalam perangkat digital. Kemampuannya mencakup pengumpulan informasi dari komputer yang terinfeksi, bergantung pada versi sistem dan akses yang diperoleh. Teknologi tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam dunia intelijen: sasaran pengawasan tidak lagi harus berada dalam ruangan yang dipasangi alat.
4. Predator — Makedonia Utara dan Jaringan Intellexa
Predator merupakan spyware invasif yang awalnya dikembangkan Cytrox, perusahaan asal Makedonia Utara, sebelum menjadi bagian dari jaringan Intellexa yang melibatkan sejumlah negara. Amnesty International menemukan bahwa teknologi tersebut dirancang untuk mengambil informasi sensitif dari perangkat yang berhasil disusupi. Data yang dapat diakses mencakup pesan, foto, lokasi, hingga rekaman mikrofon, bergantung pada kemampuan dan kondisi infeksinya.
Kontroversi Predator bukan hanya terletak pada kecanggihan perangkat lunaknya. Investigasi Predator Files mengungkap jaringan perusahaan dan pemasaran internasional yang menyulitkan transparansi mengenai penjualan teknologi pengawasan. Penelitian juga mengidentifikasi metode serangan yang pada kondisi tertentu dapat menginfeksi perangkat tanpa tindakan pengguna.
5. Pegasus — Israel: Penyadapan Tanpa Klik
Pegasus menjadi salah satu spyware paling terkenal di dunia setelah berbagai investigasi mengungkap penyalahgunaannya terhadap jurnalis, aktivis, dan tokoh masyarakat. Produk perusahaan Israel, NSO Group, ini dirancang untuk menyusupi perangkat seluler dan memperoleh akses terhadap informasi di dalamnya. Citizen Lab bahkan menemukan metode serangan tertentu yang memungkinkan iPhone terinfeksi tanpa korban perlu membuka tautan.
Teknologi tersebut dikenal sebagai zero-click exploit, yakni pemanfaatan celah keamanan tanpa membutuhkan tindakan langsung pemilik perangkat. Dalam kasus yang terdokumentasi, Pegasus mampu mengeksploitasi kelemahan perangkat lunak yang kemudian ditambal oleh pembuat sistem operasi. Namun, kemampuan tersebut tidak berarti setiap ponsel dapat diretas kapan saja atau bahwa semua perangkat masih rentan terhadap metode serangan lama.
Indonesia dan Pertanyaan Siapa yang Mengendalikan Teknologi
Perdagangan teknologi pengawasan ternyata juga berkaitan dengan Indonesia. Dalam laporan A Web of Surveillance pada Mei 2024, Amnesty International mengungkap bukti penjualan, transfer, dan keberadaan sistem pengawasan invasif yang berkaitan dengan perusahaan maupun lembaga negara Indonesia sepanjang 2017–2023. Laporan itu menyebut berbagai pemasok dan teknologi, termasuk yang berkaitan dengan NSO Group, Intellexa, dan Candiru.
Namun, Amnesty menegaskan penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa individu tertentu di Indonesia telah menjadi korban penyadapan menggunakan perangkat tersebut. Keberadaan teknologi pengawasan juga tidak otomatis menunjukkan bahwa penggunaannya ilegal dalam setiap kasus. Pembuktian membutuhkan dokumen pengadaan, pemeriksaan forensik, dasar hukum, dan informasi mengenai siapa yang mengoperasikan sistem.
Sejarah lima teknologi tersebut memperlihatkan perubahan mendasar dalam praktik penyadapan. Dari hiasan dinding yang menyembunyikan alat sederhana, kemampuan pengawasan berkembang hingga perangkat lunak yang dapat mengambil informasi dari telepon pribadi. Karena itu, persoalan paling penting bukan sekadar negara mana yang menghasilkan alat paling canggih, melainkan siapa yang dapat menggunakannya, terhadap siapa, dan dengan pengawasan hukum seperti apa.(*)